Showing posts with label muslim. Show all posts
Showing posts with label muslim. Show all posts

28 Oct 2016

KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya)

Sekilas tentang KIBAR Autumn Gathering 2016 (Southampton, 22-23 Oktober 2016)

KIBAR adalah singkatan dari Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya. Setiap musim semi dan musim gugur, umat Muslim Indonesia di UK selalu mengadakan gathering dengan mendatangkan pembicara utama dari Indonesia serta beberapa pembicara lokal. Tidak hanya mendengarkan tausiyah dan tanya jawab, biasanya kita juga mengadakan bazaar jajanan, masakan, dan bumbu-bumbu khas Indonesia. Selain itu, ada KIBAR cup juga bagi yang suka kompetisi. KIBAR gak cuma buat teman-teman Muslim yang sudah berkeluarga atau para mahasiswa senior kok, karena tema acaranya pun cocok buat kita-kita yang masih muda. Diskusi tentang kuliah juga gak jarang terjadi. Selain itu, KIBAR Gathering juga merupakan tempat yang pas untuk memperluas jaringan kita karena kita akan bertemu banyak peserta baru setiap musimnya. Disamping itu, KIBAR juga bekerja sama dengan KBRI untuk memberikan layanan konsuler bagi teman-teman yang memiliki berbagai kepentingan seperti lapor diri, penggantian paspor, meminta surat kepindahan, dan lain sebagainya.

Untuk musim gugur kali ini, Southampton menjadi tuan rumah KIBAR Gathering yang diadakan selama dua hari (22-23 Oktober 2016). Sejujurnya, pada awalnya, kami merasa 'agak' keberatan dengan keputusan ini mengingat jumlah masyarakat Indonesia di Southampton yang tergolong sedikit. Alhamdulillah, ternyata dengan massa yang sedikit juga, kami berusaha mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi para peserta KIBAR Gathering. Terlepas dari beberapa kekurangan yang pasti ada, kami cukup bangga dengan kekeluargaan teman-teman Southampton yang luar biasa. Semua anggota PPI Southampton, baik teman-teman mahasiswa, juga bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah berkeluarga pun ikut berpartisipasi dalam persiapan menjelang acara KIBAR Gathering. Persiapannya mencakup banyak hal mulai dari persiapan lokasi acara, perlengkapan, konsumsi, acara, olahraga, tour, bazaar, madrasah bagi anak-anak, transportasi, dan lain sebagainya. Bahkan teman-teman yang non-Muslim pun antusias membantu berbagai persiapannya dan ikut meramaikan bazaar (terima kasih sudah beli banyak, hehe).

KIBAR Autumn Gathering kali ini mengundang Dr. Amir Faishol Fath, MA yang membahas tentang Islah dan Mashlahah: Menjadi Muslim yang produktif. Disamping itu, ada beberapa informasi mengenai Islamic Centre di UK dan program-program dakwah di UK. Mengingat lokasi Southampton yang berada di ujung selatan UK, jumlah peserta yang hadir benar-benar diluar ekspektasi (mbludak) hehe. Di satu sisi kami sangat senang, di sisi lain, kami deg-degan, bisa atau tidak ini menjamu kurang lebih 400 orang dengan kapasitas sumber daya manusia yang cukup sedikit. Alhamdulillah, secara umum acara berjalan lancar, walaupun pastinya ada beberapa kendala dan kekurangan kami. Beberapa hari kurang tidur dan lelah yang terbayarkan dengan pesan positif yang disampaikan oleh beberapa peserta yang berpamitan pulang, juga pesan singkat yang sampai ke kotak masuk kami. Sebagai salah satu panitia, saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman semua. Semoga kuliahnya lancar dan jangan kapok yaa kalau ada kegiatan besar lagi yang akan diadakan di Southampton. Kalian semua membanggakan :)
Tons of hugs :*

Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati kita semua untuk bersilaturahim, menuntut ilmu, dan berbagi pengalaman. Paling tidak, ada beberapa kisah yang bisa menjadi cerita kelak di masa mendatang, dan ada kontribusi kecil dari kami yang bisa diberikan bagi masyarakat Indonesia di negeri yang asing ini :)

30 Jun 2016

Tidak Sulit Puasa 19 Jam di Inggris


Artikel dari Suara Surabaya


suarasurabaya.net - Navila Roslidah mahasiswa asal Kota Surabaya yang sedang menempuh studi strata dua Applied Linguistics for Language Teaching di University of Southampton, Inggris, menceritakan pengalamannya menjalani puasa di negeri tersebut.

Awalnya, Navila mengaku sangat antusias sekaligus khawatir setelah tahu kalau puasa di Southampton berdurasi hampir 19 jam atau lebih (berbeda daerah, berbeda lama puasanya). Bahkan, pada hari pertama puasa, dia harus berpuasa selama 19,5 jam karena pada saat itu dia sedang mengunjungi temannya yang berada di Kota Edinburgh, Skotlandia.

"Awalnya saya berpikir akan kesulitan karena belum terbiasa berpuasa selama itu. Namun setelah dijalani, puasa selama 19,5 jam tidak sesulit yang dibayangkan. Dimanapun kita berada saat ini, Allah pasti memberikan kemudahan bagi umatNya untuk beribadah. Selama ada niat, insya Allah ada jalan dan kemudahan," katanya dalam surat elektroniknya, Rabu (29/6/2016).

Menurutnya, selain karena tidak ada perlakuan khusus bagi orang Islam selama puasa, kegiatan tetap berjalan layaknya hari biasa dan suhu udara di sana membuat mereka tidak merasakan dahaga.

"Allah itu Maha Adil kan, negeri-negeri di mana penduduk muslimnya harus berpuasa selama itu adalah negeri-negeri yang memang mendukung masyarakat muslimnya untuk melaksanakannya. Mungkin puasa di Indonesia lebih berat hehe.. Kebetulan saya tinggal di Surabaya yang suhunya di atas 30 derajat, terkadang hampir 40 derajat," ujar Navila.https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEj7qhlmauUnz64pkwf1FW5w7g0ysFpm7B94qJb3ndJ2DlfwgZHERVRvt9QtsQ2sRieB3Zgd9LCZTPSD0sU6ycC-B5MmYyhVGCofYZKkb4jnSBmqVDsqdC8rvZzER_7XZhIbxD445dMIQaBfG_O-0lBs3db9wLlCYFvpn3aVGFqtGBUBuf5Ar74GfDxc9fyP-c7FzQHLbMQnVUU_bVGFp_b9L20RHSU=Pada Ramadhan kali ini, ada hal-hal baru yang dia temukan di Southampton. Teman-temannya yang sesama muslim yang berusaha menghidupkan suasana Ramadhan. Bersama beberapa teman internasional lainnya, dia sering melakukan iftar bersama di mushola atau masjid terdekat.

Uniknya, di masjid itu, tidak hanya takjil yang disuguhkan, namun juga tersaji makanan berat untuk berbuka puasa. "Karena banyaknya donatur yang antusias menyediakan makanan bagi teman-teman muslim di sini, terkadang kami pulang dengan makanan yang bisa kami nikmati sebagai santap sahur, semoga rejeki mereka barokah!" ujarnya.

Terkadang mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Inggris Raya merindukan masakan berbuka puasa khas Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengobati rasa rindu akan makanan dan suasana berbuka puasa ala keluarga Indonesia, mereka sering mengadakan buka bersama di kalangan masyarakat Indonesia. Teman non-muslim lainnya pun turut meramaikan acara bertema rindu kampung halaman tersebut.

"Saya menyempatkan diri untuk pergi ke luar kota, hanya untuk merasakan sahur bersama teman-teman, agar tidak sahur sendirian di dapur hall kampus. Bagaimana rasanya? Menyenangkan pastinya! Jauhnya kami dari tanah air dan keluarga, membuat hubungan kami di sini layaknya keluarga," ujarnya.

Waktu berbuka yang cukup larut, membuat umat muslim di sana juga hingga lewat tengah malam hingga tidak tidur karena sempitnya waktu antara berbuka dan sahur. "Biasanya, sholat tarawih akan berakhir sekitar pukul 00.30 atau 01.00 dini hari, setelah itu dilanjut santap sahur karena sekitar pukul 02.30 adzan subuh sudah berkumandang," kata Navila.

Oleh karena itu, salah satu tantangan berpuasa di sini adalah mengatur jam tidur dan kegiatan lainnya di kampus. "Kebetulan saya masih harus menghadiri kelas yang dimulai pagi hingga sore hari. Selain itu saya harus mulai mengerjakan tesis yang akan dikumpulkan di bulan September nanti. Terkadang rasa lapar tiba-tiba datang karena harus berpikir keras, hehe. Namun di situlah seninya," lanjut dia.

Selain berpuasa, Navila merasa Allah juga memberikan mereka kesempatan untuk berdakwah melalui respon teman-teman internasionalnya yang belum banyak bersentuhan dengan kebiasaan Islam.

"Mereka dengan detail menanyakan bagaimana puasa itu, mengapa kami umat Islam harus berpuasa, hingga pertanyaan tentang berjilbab dan shalat. Saya merasa beruntung karena dengan begini, kami yang jauh dari lingkungan masyarakat muslim dapat turut menyampaikan bagaimana Islam yang sebenarnya terlepas dari berbagai isu yang beredar di dunia luar," katanya.(iss/ipg)



2 Apr 2016

What is it like to be a Muslim in Britain today?

Article published in PPI Southampton

Assalamu'alaikum :)
Many people asked me to share a story about being a Muslim in Britain. Is it hard to do salah (praying)? Is it hard to find and eat halal food? What about the local culture?
Well, the answer is both hard and easy :)

Salah
Being asked about the praying matter, I can only say that it depends on individuals since it has something to do with our desire to do it or not, lol. When there is no will to do it, we will easily say: it is really hard to do! Several months ago, in September to be exact, I arrived in England to continue my study. Of course, at the beginning, I was confused where the Qibla direction is. The first attempt that I did was installing some mobile apps that can show me the direction. At that time, I tried to combine several apps to make sure that I face the right direction when I’m praying. Okay, it is easy to do praying at home since I can perform wudu (a ritual of washing (ablution) several parts of our body before praying) well and have a proper place to pray. However, it becomes really hard to do it outside (since I was a newcomer at that time). In the first week, due to an outside activity, I did my prayer on the riverside park with my coat as a mat because I didn’t know more proper place to do it around that area (Muslim needs to do prayer 5 times a day and there is also the prescribed times to do it Fajr—near dawn, Zuhr—just after midday, Asr—late afternoon, Maghrib—just after sunset, and Isha—after dark). I did wudu with a bottle of still water that I brought, fortunately I brought my prayer clothes. The week after, I finally found several mosques around city centre. Alhamdulillah :)
In campus, I can do prayer in a more than decent Muslim prayer room. We, Muslim, are well-facilitated by our campus so that it is really easy to pray even we still has a lecture. Sometimes, I just leave the class for a moment to do it in the prayer room because in winter, we don’t have much time since the daytime is shorter :) but in summer, we have a longer daytime which is really convenient to wait until the class is over. Well, I can say that where there’s a will there’s a way, InsyaAllah :)

Halal Food
Southampton is one of the cities around UK that has less halal food (compared to other big cities with more Muslim population). However, that is not the reason to prevent me to find halal food :) Before coming here, I have thought about it and prepared some canned sardines from Indonesia and in my first week in the UK, I bought and ate fruits and fish only lol. After being accustomed to the transportation here, I started to visit several places around campus and city centre. Alhamdulillah, I found halal Turkish restaurant near campus and some other halal restaurants :) Okay, I found some restaurants yet I still want to make my own meal :p As recommended by my previous lecturer who has been in the UK before me, I went to a supermarket that provides halal meat as well, and found it! Halal meat and chicken! There is one special section for halal stuff in supermarket, alhamdulillah :) once more, where there’s a will there’s a way :)

Local Culture
Well, I’m a student in a multicultural classroom. The way we interact and socialize, of course, is defferent. After several weeks of our study, some of my local friends asked the member of the class to chill out in the university pub. The time suggested was also really late in the evening. I can turn down the first invitation (sorry about it guys :p) but I couldn’t bring myself to do it when another one is coming :D so, I tried to explain my condition about being a Muslim :) I am forbidden to drink alcohol and any food contains it. Besides that, I am only allowed to eat halal food (no pork! For other kinds of meat are allowed if halal-slaughtered) :) Fortunately, my friends are really considerate and the next time we are going out, we always choose the convenient time for everyone, and of course, convenient restaurant with halal food or vegetarian meals. Once more! We only need to try :) It is easy or not is just a matter of our will and effort. The good thing about being Muslim in UK, for me, I began to realize that while in Indonesia I was too careless. I feel secure and comfortable with everything supplied, especially food, without having further consideration about the food I consumed, is it halal or not? Are those chicken or beef sold in the market are halal (halal-slaughtered)? Well, I don’t know :( Here, in the UK, I need to be more careful before buying food, even for chocolate, I need to look at the ingredients first. Thanks MUI (Indonesia's top Muslim clerical body) who always try to make sure that Indonesian people eat halal food. I hope that the examination for food and any other things in Indonesia is done regularly so that it can help as on the assurance of halal food we eat :)

Wallahu a’lam bishawab


10 Mar 2016

Bagaimana sih Rasanya jadi seorang Muslim di Inggris?


Assalamu'alaikum :) 

Banyak banget yang tanya bagaimana sih rasanya jadi seorang Muslim di Inggris? Susah gak menjaga sholatnya? Susah gak makan makanan halal? Susah gak untuk menghindari pengaruh sosial yang tidak islami? 
Well, jawabannya susah susah gampang :D 

Menjaga Sholat
Kalau ditanya susah gak menjaga sholat? Masalah menjaga sholat sebenarnya bergantung pada pribadi masing-masing karena itu berhubungan dengan faktor keinginan hehe. Ketika tidak ada keinginan untuk menjaga sholat, sudah pasti akan langsung menjawab: susah! 
Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan September, saya tiba di Inggris untuk melanjutkan studi. Memang, pada awalnya, saya saja bingung ini sholat menghadap ke mana karena tidak ada petunjuk arah kiblat, usaha pertama yang dilakukan ya menggunakan aplikasi yang dapat membantu menunjukkan arah kiblat, saat itu saya mengombinasikan beberapa aplikasi untuk make sure kalo arah yang saya tuju memang benar. Oke, kalau posisi di rumah mungkin lebih gampang untuk sholat, nah kalo diluar? Di minggu pertama tiba, saya sempat sholat di riverside park dengan alas jaket dan wudhu dengan sebotol air mineral yang saya bawa (saya juga kebetulan bawa mukenah waktu itu) karena sama sekali clueless di mana tempat sholat yang proper. Di minggu-minggu selanjutnya akhirnya saya menemukan lokasi-lokasi masjid yang bisa saya kunjungi di sekitar city centre. Alhamdulillah :) 
Untuk di kampus, sudah disediakan dan difasilitasi dengan sangat baik, jadi sangat mudah kalau sedang ada kelas, terkadang keluar sebentar untuk sholat karena waktu sholat yang agak mepet dan bertabrakan dengan jadwal kuliah. Selama mau usaha, insyaAllah ada jalan dan mudah! :) 

Makanan Halal

Untuk makanan halal, Southampton (daerah tempat saya tinggal) termasuk tempat yang sangat jarang makanan halalnya dibandingkan kota-kota lain di Inggris. Namun, bukan berarti gak usaha juga buat nyari yang halal kan :D Karena sudah kepikiran masalah ini, saya sudah bersiap membawa beberapa kaleng sarden dari Indonesia dan beli hanya buah dan ikan di Inggris lol. Setelah mulai terbiasa dengan transportasi dsb, saya pun mulai mengunjungi beberapa tempat, alhamdulillah di dekat kampus ada restaurant Turki halal juga beberapa restaurant halal lainnya. Oke, restaurant sudah, tapi masa iya makan itu terus? Pengen masak juga sih. Sesuai rekomendasi dari ibu dosen saya yang lebih dulu ke UK, katanya supermarket di UK menyediakan daging dan ayam halal juga kok, ada sectionnya sendiri :) Berangkatlah saya dan ketemu! Eh, ternyata di daerah city centre juga ada satu jalan yang dipenuhi dengan toko penyedia bahan makanan halal, bahagia kuadrat judulnya :D Sekali lagi, yang penting usaha nyari! haha


Pengaruh Sosial
Yang namanya kuliah, pasti donk kita punya teman sekelas, yang juga beragam. Karena kampusnya internasional, mahasiswanya juga multikultural. Cara mereka bersosialisasi pun berbeda. Beberapa minggu setelah perkuliahan, beberapa teman lokal melontarkan ajakan pada teman sekelas untuk nongkrong supaya lebih kenal. Waktu yang diusulkan pun cenderung malam dan ngajaknya ke pub pula haha. Pertama, bisa sih ditolak, karena 'sungkan' saya pun menolak dengan alasan entah apa waktu itu --" Ajakan selanjutnya, saya mulai mengajukan penawaran dan menjelaskan kondisi saya di mana saya tidak diperbolehkan untuk minum alkohol, eh ternyata mereka mudah mengerti, tau gitu dari awal dibilangin aja. Akhirnya selanjutnya mereka lebih memikirkan kebutuhan kita, mulai dari segi waktu juga makanan halal atau vegetarian yang disediakan hehe. Sekali lagi, usaha! 

Masalah gampang atau egak sebenernya bergantung usaha dan niat kita aja. Justru semenjak tinggal di sini saya mulai sadar kalau selama di Indonesia saya terlalu ceroboh dan merasa aman juga nyaman dengan segala yang disediakan. Tanpa bingung memikirkan halal tidaknya makanan yang saya konsumsi. Apa iya itu ayam atau sapi yang dijual di pasar halal semua (disembelih sesuai dengan aturan Islam)? Duh, entah :( Di sini mau beli cokelat aja pake diperiksa ingredients nya (sangat lebih berhati-hati). Terima kasih MUI yang sudah berusaha memeriksa segala sesuatu untuk masyarakat Indonesia. Semoga saja pemeriksaan yang dilakukan benar-benar berkala dan benar-benar membantu kami atas terjaminnya makanan halal yang masuk ke tubuh kami.
Wallahu a'lam bishawab

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons