Showing posts with label studi. Show all posts
Showing posts with label studi. Show all posts

30 Jun 2016

Tidak Sulit Puasa 19 Jam di Inggris


Artikel dari Suara Surabaya


suarasurabaya.net - Navila Roslidah mahasiswa asal Kota Surabaya yang sedang menempuh studi strata dua Applied Linguistics for Language Teaching di University of Southampton, Inggris, menceritakan pengalamannya menjalani puasa di negeri tersebut.

Awalnya, Navila mengaku sangat antusias sekaligus khawatir setelah tahu kalau puasa di Southampton berdurasi hampir 19 jam atau lebih (berbeda daerah, berbeda lama puasanya). Bahkan, pada hari pertama puasa, dia harus berpuasa selama 19,5 jam karena pada saat itu dia sedang mengunjungi temannya yang berada di Kota Edinburgh, Skotlandia.

"Awalnya saya berpikir akan kesulitan karena belum terbiasa berpuasa selama itu. Namun setelah dijalani, puasa selama 19,5 jam tidak sesulit yang dibayangkan. Dimanapun kita berada saat ini, Allah pasti memberikan kemudahan bagi umatNya untuk beribadah. Selama ada niat, insya Allah ada jalan dan kemudahan," katanya dalam surat elektroniknya, Rabu (29/6/2016).

Menurutnya, selain karena tidak ada perlakuan khusus bagi orang Islam selama puasa, kegiatan tetap berjalan layaknya hari biasa dan suhu udara di sana membuat mereka tidak merasakan dahaga.

"Allah itu Maha Adil kan, negeri-negeri di mana penduduk muslimnya harus berpuasa selama itu adalah negeri-negeri yang memang mendukung masyarakat muslimnya untuk melaksanakannya. Mungkin puasa di Indonesia lebih berat hehe.. Kebetulan saya tinggal di Surabaya yang suhunya di atas 30 derajat, terkadang hampir 40 derajat," ujar Navila.https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEj7qhlmauUnz64pkwf1FW5w7g0ysFpm7B94qJb3ndJ2DlfwgZHERVRvt9QtsQ2sRieB3Zgd9LCZTPSD0sU6ycC-B5MmYyhVGCofYZKkb4jnSBmqVDsqdC8rvZzER_7XZhIbxD445dMIQaBfG_O-0lBs3db9wLlCYFvpn3aVGFqtGBUBuf5Ar74GfDxc9fyP-c7FzQHLbMQnVUU_bVGFp_b9L20RHSU=Pada Ramadhan kali ini, ada hal-hal baru yang dia temukan di Southampton. Teman-temannya yang sesama muslim yang berusaha menghidupkan suasana Ramadhan. Bersama beberapa teman internasional lainnya, dia sering melakukan iftar bersama di mushola atau masjid terdekat.

Uniknya, di masjid itu, tidak hanya takjil yang disuguhkan, namun juga tersaji makanan berat untuk berbuka puasa. "Karena banyaknya donatur yang antusias menyediakan makanan bagi teman-teman muslim di sini, terkadang kami pulang dengan makanan yang bisa kami nikmati sebagai santap sahur, semoga rejeki mereka barokah!" ujarnya.

Terkadang mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Inggris Raya merindukan masakan berbuka puasa khas Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengobati rasa rindu akan makanan dan suasana berbuka puasa ala keluarga Indonesia, mereka sering mengadakan buka bersama di kalangan masyarakat Indonesia. Teman non-muslim lainnya pun turut meramaikan acara bertema rindu kampung halaman tersebut.

"Saya menyempatkan diri untuk pergi ke luar kota, hanya untuk merasakan sahur bersama teman-teman, agar tidak sahur sendirian di dapur hall kampus. Bagaimana rasanya? Menyenangkan pastinya! Jauhnya kami dari tanah air dan keluarga, membuat hubungan kami di sini layaknya keluarga," ujarnya.

Waktu berbuka yang cukup larut, membuat umat muslim di sana juga hingga lewat tengah malam hingga tidak tidur karena sempitnya waktu antara berbuka dan sahur. "Biasanya, sholat tarawih akan berakhir sekitar pukul 00.30 atau 01.00 dini hari, setelah itu dilanjut santap sahur karena sekitar pukul 02.30 adzan subuh sudah berkumandang," kata Navila.

Oleh karena itu, salah satu tantangan berpuasa di sini adalah mengatur jam tidur dan kegiatan lainnya di kampus. "Kebetulan saya masih harus menghadiri kelas yang dimulai pagi hingga sore hari. Selain itu saya harus mulai mengerjakan tesis yang akan dikumpulkan di bulan September nanti. Terkadang rasa lapar tiba-tiba datang karena harus berpikir keras, hehe. Namun di situlah seninya," lanjut dia.

Selain berpuasa, Navila merasa Allah juga memberikan mereka kesempatan untuk berdakwah melalui respon teman-teman internasionalnya yang belum banyak bersentuhan dengan kebiasaan Islam.

"Mereka dengan detail menanyakan bagaimana puasa itu, mengapa kami umat Islam harus berpuasa, hingga pertanyaan tentang berjilbab dan shalat. Saya merasa beruntung karena dengan begini, kami yang jauh dari lingkungan masyarakat muslim dapat turut menyampaikan bagaimana Islam yang sebenarnya terlepas dari berbagai isu yang beredar di dunia luar," katanya.(iss/ipg)



7 May 2016

7 Situs Penyedia E-book GRATIS dan LEGAL



Berikut adalah 7 situs yang menyediakan beragam jenis e-book, mulai fiksi hingga akademis. Dan yang terpenting dari ketujuh situs ini adalah, semua e-book yang disediakan dapat kita dapatkan secara gratis namun tetap legal :) 

Project Gutenberg (http://www.gutenberg.org/)
Project Gutenberg adalah salah satu situs penyedia e-book gratis yang bisa didownload maupun dibaca online. Pada tahun 1971, Project Gutenberg memulai usahanya untuk menyediakan buku elektronik gratis untuk setiap orang. Situs ini berusaha untuk 'mendigitalisasikan' buku teks dengan bantuan para relawan yang juga memiliki tujuan yang sama. Situs ini juga tidak memungut biaya apapun, namun jika kita ingin memberikan donasi untuk memperkaya koleksi buku yang akan dibuat versi digitalnya. Tidak terbatas pada format text, Project Gutenberg juga berusaha untuk menyediakan buku dalam format lainnya seperti PDF, HTML, audiobook, hingga buku dalam CD dan DVD. Jika kita tertarik untuk menjadi salah satu relawan di situs ini, kita dapat membantu dengan berbagai cara, mulai dari menjadi proofreader, membantu proses burning CD untuk mereka yang tidak memiliki koneksi internet, dan lain sebagainya. 

Open Library (http://openlibrary.org/)
Sama seperti situs sebelumnya, Open Library juga menyediakan e-book gratis. Layaknya 'library' (perpustakaan), situs ini menyediakan fitur baca dan juga pinjam. Open Library juga bekerja sama dengan beberapa perpustakaan dunia untuk melengkapi koleksinya. Menariknya, kita juga dapat berkontribusi di situs ini dengan mendaftarkan perpustakaan kita. Selain itu, kesempatan untuk memberikan kontribusi berupa perbaikan kesalahan penulisan, penambahan koleksi buku dan penulisan widget juga dapat kita lakukan. Situs ini cenderung menyediakan literatur klasik yang merupakan sebagian besar koleksinya. 

Oapen Library (http://www.oapen.org/home
Oapen Library menyediakan e-book akademis yang sebagian besar berada di area ilmu sosial dan humanities. Walaupun sebagian besar koleksinya merupakan literatur ilmu sosial, Oapen Library juga menyediakan e-book di bidang lainnya seperti ekonomi, geografi, hukum, dan bidang keilmuan lainnya. 

Dari Judulnya, kita pasti beranggapan bahwa situs ini adalah situs yang disediakan oleh pemerintah, lembaga, atau badan lainnya di Aceh. Namun, faktanya, situs ini merupakan salah satu project University of Leiden untuk menyelamatkan literatur Aceh. Jadi, situs ini berisi buku-buku tentang Aceh yang ditulis dalam beberapa bahasa seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Aceh, Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, dan juga dalam beberapa bahasa di negara Eropa lainnya. 

Situs ini menyediakan literatur Inggris klasik yang sebagian besar adalah cerita fiksi. Situs ini sangat cocok bagi para penggemar Mark Twain, Charles Dickens, Emily Bronte, Jack London dan beberapa penulis lainnya. Selain fiksi, situs ini juga menyediakan karya ilmiah klasik. 

Feedbooks merupakan salah satu situs yang cukup kaya akan literatur, baik itu fiksi maupun non fiksi. Situs ini menyediakan beragam tulisan bergenre cerita pendek, humor, sejarah, hingga travel. Semua buku sudah dikategorikan sehingga memudahkan pengunjungnya untuk memilih buku yang diinginkan. 

Situs ini berhubungan dengan situs Open Library dalam pengelolaannya. Situs ini juga menyediakan beragam literatur dengan cakupan bidang yang cukup luas. Di situs ini juga terdapat buku yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa seperti Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Jerman, Bahasa Arab, dan bahasa lainnya. 

Semoga bermanfaat :) 

10 Mar 2016

Bagaimana sih Rasanya jadi seorang Muslim di Inggris?


Assalamu'alaikum :) 

Banyak banget yang tanya bagaimana sih rasanya jadi seorang Muslim di Inggris? Susah gak menjaga sholatnya? Susah gak makan makanan halal? Susah gak untuk menghindari pengaruh sosial yang tidak islami? 
Well, jawabannya susah susah gampang :D 

Menjaga Sholat
Kalau ditanya susah gak menjaga sholat? Masalah menjaga sholat sebenarnya bergantung pada pribadi masing-masing karena itu berhubungan dengan faktor keinginan hehe. Ketika tidak ada keinginan untuk menjaga sholat, sudah pasti akan langsung menjawab: susah! 
Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan September, saya tiba di Inggris untuk melanjutkan studi. Memang, pada awalnya, saya saja bingung ini sholat menghadap ke mana karena tidak ada petunjuk arah kiblat, usaha pertama yang dilakukan ya menggunakan aplikasi yang dapat membantu menunjukkan arah kiblat, saat itu saya mengombinasikan beberapa aplikasi untuk make sure kalo arah yang saya tuju memang benar. Oke, kalau posisi di rumah mungkin lebih gampang untuk sholat, nah kalo diluar? Di minggu pertama tiba, saya sempat sholat di riverside park dengan alas jaket dan wudhu dengan sebotol air mineral yang saya bawa (saya juga kebetulan bawa mukenah waktu itu) karena sama sekali clueless di mana tempat sholat yang proper. Di minggu-minggu selanjutnya akhirnya saya menemukan lokasi-lokasi masjid yang bisa saya kunjungi di sekitar city centre. Alhamdulillah :) 
Untuk di kampus, sudah disediakan dan difasilitasi dengan sangat baik, jadi sangat mudah kalau sedang ada kelas, terkadang keluar sebentar untuk sholat karena waktu sholat yang agak mepet dan bertabrakan dengan jadwal kuliah. Selama mau usaha, insyaAllah ada jalan dan mudah! :) 

Makanan Halal

Untuk makanan halal, Southampton (daerah tempat saya tinggal) termasuk tempat yang sangat jarang makanan halalnya dibandingkan kota-kota lain di Inggris. Namun, bukan berarti gak usaha juga buat nyari yang halal kan :D Karena sudah kepikiran masalah ini, saya sudah bersiap membawa beberapa kaleng sarden dari Indonesia dan beli hanya buah dan ikan di Inggris lol. Setelah mulai terbiasa dengan transportasi dsb, saya pun mulai mengunjungi beberapa tempat, alhamdulillah di dekat kampus ada restaurant Turki halal juga beberapa restaurant halal lainnya. Oke, restaurant sudah, tapi masa iya makan itu terus? Pengen masak juga sih. Sesuai rekomendasi dari ibu dosen saya yang lebih dulu ke UK, katanya supermarket di UK menyediakan daging dan ayam halal juga kok, ada sectionnya sendiri :) Berangkatlah saya dan ketemu! Eh, ternyata di daerah city centre juga ada satu jalan yang dipenuhi dengan toko penyedia bahan makanan halal, bahagia kuadrat judulnya :D Sekali lagi, yang penting usaha nyari! haha


Pengaruh Sosial
Yang namanya kuliah, pasti donk kita punya teman sekelas, yang juga beragam. Karena kampusnya internasional, mahasiswanya juga multikultural. Cara mereka bersosialisasi pun berbeda. Beberapa minggu setelah perkuliahan, beberapa teman lokal melontarkan ajakan pada teman sekelas untuk nongkrong supaya lebih kenal. Waktu yang diusulkan pun cenderung malam dan ngajaknya ke pub pula haha. Pertama, bisa sih ditolak, karena 'sungkan' saya pun menolak dengan alasan entah apa waktu itu --" Ajakan selanjutnya, saya mulai mengajukan penawaran dan menjelaskan kondisi saya di mana saya tidak diperbolehkan untuk minum alkohol, eh ternyata mereka mudah mengerti, tau gitu dari awal dibilangin aja. Akhirnya selanjutnya mereka lebih memikirkan kebutuhan kita, mulai dari segi waktu juga makanan halal atau vegetarian yang disediakan hehe. Sekali lagi, usaha! 

Masalah gampang atau egak sebenernya bergantung usaha dan niat kita aja. Justru semenjak tinggal di sini saya mulai sadar kalau selama di Indonesia saya terlalu ceroboh dan merasa aman juga nyaman dengan segala yang disediakan. Tanpa bingung memikirkan halal tidaknya makanan yang saya konsumsi. Apa iya itu ayam atau sapi yang dijual di pasar halal semua (disembelih sesuai dengan aturan Islam)? Duh, entah :( Di sini mau beli cokelat aja pake diperiksa ingredients nya (sangat lebih berhati-hati). Terima kasih MUI yang sudah berusaha memeriksa segala sesuatu untuk masyarakat Indonesia. Semoga saja pemeriksaan yang dilakukan benar-benar berkala dan benar-benar membantu kami atas terjaminnya makanan halal yang masuk ke tubuh kami.
Wallahu a'lam bishawab

30 Jan 2015

LPDP: Second Try

"Do not brood over your past mistakes and failures as this will only fill your mind with grief, regret and depression. Do not repeat them in the future."
-Swami Sivananda

Masa Perenungan
Dalam coretan tentang beasiswa LPDP sebelumnya saya sempat bercerita tentang kegagalan saya mendapatkan beasiswa ini. Oke, kemarin gagal dan saya menenangkan diri untuk bersiap mengikuti tahap selanjutnya. Sayangnya, aturan LPDP bahwa yang tidak lolos seleksi wawancara harus menunggu selama dua periode sebelum dapat mendaftar kembali. Sembari menunggu, saya mencoba meyakinkan kembali orang tua saya (tentu saja dengan melihat situasi yang sudah sedikit membaik saat itu). Alhamdulillah, suara orang tua saya sudah bulat dan mereka mendukung sepenuhnya akan rencana saya untuk melanjutkan kuliah.  
Setelah gagal mendapatkan beasiswa, tentu saja perasaan ini rasanya campur aduk. Namun, sebisa mungkin saya berusaha untuk merenungi apa yang terjadi. Saat itu orang tua saya membutuhkan saya, saat itulah saya sadar, kalau bukan saya ya siapa lagi? 

Mencoba (lagi)
Ketika tiba saatnya untuk mencoba lagi, saya pun mengumpulkan dokumen yang sama dengan sedikit perubahan menyesuaikan dengan kegiatan saya enam bulan terakhir. Saya sangat yakin saya mampu melewati seleksi administrasi. Benar saja, ketika pengumuman hasil seleksi administrasi, saya menemukan nama saya dalam daftar peserta yang lolos seleksi wawancara. Saya kemudian menyampaikan berita ini pada kedua orang tua saya, dan responnya sangatlah baik :) alhamdulillah, sepertinya mereka sudah ridho untuk membiarkan saya berusaha melanjutkan kuliah dan mendukung penuh keputusan saya :) 

LGD dan Wawancara
Seperti sebelumnya, jadwal LGD dan wawancara saya tidak di hari yang sama, sehingga saya harus kembali ke lokasi keesokan harinya. Selain memberikan pelajaran bahwa ridho Ayah dan Ibu sangatlah penting, kegagalan sebelumnya secara tidak langsung membuat saya lebih siap menghadapi seleksi di periode ini. Anggap saja kegagalan kemarin sebagai latihan :)
Alhamdulillah LGD berlangsung lancar dan teman sekelompok sempat bertemu sebelum proses LGD dan makan siang bersama di kantin Unair waktu itu setelah LGD selesai. Keesokan harinya, wawancara pun berlangsung. Karena tidak ingin kegagalan sebelumnya terulang, saya pun mengosongkan jadwal di hari itu, kebetulan juga jadwal wawancaranya pagi, alhamdulillah :)
Sebelum masuk ke ruang wawancara, saya bertemu beberapa teman yang mendapatkan meja interview yang sama. Kami pun berbincang dan merasa tidak ingin kehilangan kontak satu sama lainnya mengingat kami sama-sama passionate di bidang masing-masing. Kami pun bertukar kontak dan masih berhubungan baik hingga sekarang, bahkan terkadang membahas project yang mungkin bisa dikerjakan bersama :) well, tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. 
Saat di meja wawancara, saya sudah tidak merasa nervous sama sekali (entah karena siap berhasil atau siap gagal haha). Alhamdulillah proses wawancara berjalan lancar dan saya berusaha untuk menjawab semuanya dengan jujur dan sesuai dengan bidang dan kemampuan yang memang saya miliki. Saya merasa menjadi diri saya sendiri saat itu, tanpa perlu mencoba membuat para interviewer amaze dengan kemampuan atau karya saya. Satu hal yang saya ingat akan pertanyaan interviewer yang membuat saya menjawab dengan sedikit pasrah namun optimis :) 
"Apa yang akan kamu lakukan setelah nanti kembali dari menjalani studimu?" 
saya pun mencoba realistis dengan kondisi yang memang saya alami dan menjawab, 
"Sejujurnya saya ingin memperbaiki sistem pendidikan yang ada di negeri ini, namun saya tahu di mana batas kemampuan saya, saya akan kembali dan berusaha mendukung pembangunan pendidikan Indonesia dari bawah, dari dasar. Saya hanya mampu turun ke masyarakat dan mengamalkan ilmu yang saya miliki melalui pendidikan entah formal maupun informal. Karena pada dasarnya, generasi penerus lah yang perlu diperbaiki, bukan mereka yang sudah berada di atas sana." 
Jawaban itu pun mengakhiri proses wawancara hari itu. 

Pengumuman (lagi)
Alhamdulillah! Terima kasih, Ayah, Ibu, atas doa dan dukungannya! 

30 Aug 2014

LPDP: Ketika Ridho Orang Tua Menentukan

Ridho orang tua memang salah satu hal yang sangat menentukan bagaimana sebagian besar jalan hidup saya terjadi! Begitu pun dengan kisah perburuan beasiswa yang saya lakukan. Saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang apa yang saya alami, karena kisah ini bukanlah kisah yang memiliki 'happy ending', tapi semoga dapat menyadarkan kita semua akan satu faktor yang sangat menentukan jalan yang akan kita tapaki di kemudian hari.

Lanjut Kuliah?
Sebelum berkeinginan untuk melanjutkan kuliah, saya hanya ingin bersyukur karena saya mampu menyelesaikan pendidikan S1 saya karena saya tergolong orang yang (karena kondisi tak terduga saat itu) tidak mampu untuk bersekolah tinggi, bahkan saya hampir saja tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang menengah pertama, tetapi terima kasih pada kedua orang tua saya yang mampu menjadi orang tua hebat sehingga sampai sekarang saya dapat mengenyam pendidikan yang layak :) Banyak sekali drama tersembunyi dalam perjalanan pendidikan saya yang mana belum siap saya sampaikan :D
Selepas S1 saya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, saya tidak punya pangkat untuk menjadikan suara saya didengar, karena lingkungan saya bukan lingkungan yang mau mendengarkan apa KONTEN dari ucapan saya, namun SIAPA saya. Saya tidak mempunyai kekuatan untuk merubah segala sesuatu yang sudah ada, yang saya mampu adalah mengamalkan ilmu yang saya miliki di bidang pendidikan untuk membantu mendidik mereka yang membutuhkan. Sepertinya "undzur ma qola wa laa tandzur man qola" belum berlaku di sini :)

LPDP?
Bermodal keinginan simple untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, saya pun mencoba mendaftar beasiswa LPDP. Saat itu informasi tentang LPDP masih sedikit dan alhamdulillah website LPDP sendiri sudah sangat membantu untuk mengikuti prosesnya. Saya pun mendaftar tanpa kendala dan orang tua saya saat itu mendukung apa yang saya lakukan.
Alhamdulillah, saya pun mendapatkan email yang berisi daftar nama yang lolos seleksi administrasi. Saya pun menghubungi orang tua saya yang berada di pulau seberang bahwa saya lolos seleksi ini. Saya pun bersiap untuk mengikuti seleksi wawancara yang saat itu dilaksanakan di Unair (karena saya memilih Surabaya sebagai lokasi wawancara saya). 

Beberapa Hari sebelum Seleksi Lanjutan
Kira-kira kurang dari seminggu sebelum seleksi wawancara dan LGD berlangsung, saya mendapatkan telepon dari Ibu. Entah kenapa Ibu tiba-tiba berkata, "Lanjut kuliahnya gak bisa tahun depan aja ta, Kak?" Saya bingung dan terdiam, jelas bertanya-tanya kenapa Ibu tiba-tiba berubah pikiran untuk mendukung penuh keputusan saya sebelumnya. Saya hanya menjawab dan meminta ijin untuk tetap mengikuti seleksi wawancara LPDP gelombang ini, dan Ibu hanya berkata ringan, "iya."
Pada saat itu memang ada sesuatu yang benar-benar membuat saya untuk tetap berada di tanah air bersama saudara saya satu-satunya. 


Ketika Ridho Allah merupakan Ridho Ayah dan Ibu
Di hari berlangsungnya seleksi, saya mendapatkan giliran untuk melakukan LGD terlebih dahulu. Sampai tahap ini, saya masih merasa segalanya berjalan dengan lancar. Hari selanjutnya adalah hari untuk melakukan seleksi wawancara di mana saya mulai menemukan banyak kendala. Saya sudah dengan sangat berhati-hati untuk make sure kalau besok akan berjalan dengan lancar juga. Saya mendapatkan giliran di siang hari dan bertanya pada panitia apakah saya bisa datang sekitar 2-3 jam sebelum jadwal saya karena saya masih harus mengajar, dan mereka pun mengatakan dua jam sebelum jadwal yang ditentukan saya sudah harus berada di lokasi. Keesokan harinya, saya benar-benar tiba di lokasi 2.5 jam sebelum jadwal saya, namun yang saya dapati adalah tidak ada lagi peserta seleksi yang mengantri di luar ruang seleksi saya :) Yaa Allah, kok gini? *runtuk dalam hati* 
Saya pun bertanya pada peserta yang mengantri di luar ruangan sebelah, dan mereka mengatakan bahwa memang yang di ruangan saya sudah selesai semua tetapi interviewernya belum terlihat meninggalkan ruangan. Saat itu juga salah satu interviewer keluar ruangan (sepertinya psikolognya), dan saya bertanya apa masih bisa melakukan seleksi, saya pun dipersilahkan masuk. 
Dalam ruangan wawancara, belum sempat saya duduk, saya sudah dilemparkan sebuah pertanyaan yang menohok oleh salah satu interviewernya, "Gak niat ya?" hehe itu makjleb sih waktu itu, tapi saya berusaha tenang dan menjalani proses wawancara yang kurang menyenangkan (karena interviewernya tampak ingin segera mengakhiri proses itu). Selepas wawancara, saya pun merasa saya sudah tahu hasilnya :) 

Pengumuman

Alhamdulillah, ternyata saya benar-benar tidak lolos seleksi wawancara saat itu :) 

Sebaik apapun persiapan yang saya lakukan, ada faktor lain yang mampu mengubah segalanya dalam sekejap. Dalam hal ini, saya pun sangat sadar kalau ridho Ibu yang tidak diberikan saat itu sangatlah berpengaruh pada segala sesuatu yang terjadi dalam proses yang saya jalani. Pesan saya, jangan pernah mengesampingkan ridho Ayah dan Ibu, memang kita harus terus berusaha, namun ridho mereka sangatlah penting (selama itu semua tidak melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah SWT). Memang, pelajaran yang datang dari kegagalan terkadang tidak mudah untuk diterima dan dipahami, namun, pasti ada sesuatu yang harus kita lalui sebelum mendapatkan sesuatu yang berharga. Semoga di tulisan selanjutnya saya sudah mampu menghadirkan akhir yang saya harapkan :) 


10 Jul 2014

Perburuan LoA (Letter of Acceptance)

Letter of Acceptance atau yang sering disingkat dengan LoA adalah surat sakti yang diberikan universitas tujuan sebagai kunci memasuki universitas tersebut. Terkadang, LoA juga bisa digantikan dengan Letter of Offer atau LoO, keduanya memiliki fungsi yang sama, kunci awal memulai perkuliahan di universitas yang kita tuju.
Sebelum mendapatkan LoA, ada beberapa langkah yang sebaiknya kita lakukan. Well, rinciannya bisa dilihat dibawah ini :D

Menentukan Universitas Tujuan
Hal pertama yang harus dilakukan sebelum berburu LoA pastinya menentukan universitas tujuan. Satu hal yang terpenting, lakukan pencarian mendetail tentang universitas yang akan kita tuju. Mungkin ranking universitas memang sangat bagus, tapi apakah begitu juga dengan jurusan yang akan kita ambil nantinya?
Menentukan dan mencari tahu tentang jurusan dan bidang studi yang diminati sangatlah penting sebelum memasukkan aplikasi. Pasti gak pengen donk nantinya kuliah di jurusan yang kurang pas dengan minat kita :)

Mempersiapkan Dokumen yang Dibutuhkan
Nah! Fungsi dari mencari tahu tentang universitas itu salah satunya mengetahui persyaratan yang diminta oleh universitas tersebut. Dokumen apa saja sih yang dibutuhkan? Waktu itu saya mendaftar di salah satu universitas di UK, jadi mohon maaf kalau hanya bisa menjelaskan tentang dokumen yang dibutuhkan untuk universitas di UK :)
Pertama, ijazah dan transkrip. Karena mendaftar di universitas luar negeri, pastinya kita harus melampirkan dokumen yang sudah melalui proses alih bahasa terlebih dahulu. Saat ini sudah banyak kok penerjemah tersumpah yang bisa digunakan jasanya untuk melakukan translasi :) Pastikan juga lihat ketentuan berapa IPK yang dibutuhkan yaa :)
Kedua, surat rekomendasi. Biasanya, universitas meminta dua jenis surat rekomendasi, satu dari pihak universitas, satu lagi dari tempat kita bekerja. Namun, hal tersebut tidaklah mutlak, jadi boleh kok melampirkan dua surat rekomendasi dari universitas. Make sure yang memberikan rekomendasi merupakan orang yang benar-benar mengenal kita dengan baik ya, karena terkadang pihak univ akan menghubungi mereka untuk melakukan konfirmasi :)
Ketiga, personal statement. Nah! Ini saatnya kita unjuk gigi. Personal statement adalah salah satu tempat di mana kita bisa membicarakan segala hal tentang diri kita. Namun, jangan terlalu show off ya, bisa-bisa pihak univ malah capek bacanya :p Eits, biasanya sih ada ketentuan jumlah kata maksimal yang diperbolehkan. Rata-rata univ meminta personal statement sepanjang 300 kata. Dikit banget ya buat ceritain gimana diri kita? Iya banget! Tapi memang itulah tujuannya, jadi gimana cara kita bisa manage apa yang ingin kita sampaikan dalam sebuah tulisan pendek. Kurang lebih sih 50 persen dari tulisan kita berisi alasan kita memilih univ tersebut dan tunjukkan kalau kita sudah benar-benar kenal dengan univ melalui beberapa research yang sudah kita lakukan. 30 persennya kita bisa menceritakan tujuan kita dan bagaimana kuliah di univ tersebut dapat membantu kita untuk mewujudkan tujuan itu. Sisanya, kita bisa bercerita tentang diri kita, kegiatan kita, bahkan hobi yang kita minati, semacam pembicaraan casual untuk memperkenalkan diri.
Keempat, sertifikat kemampuan bahasa. Karena kita mendaftar di universitas yang tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium of instruction, kita wajib donk melampirkan seberapa tingkat kemampuan bahasa asing kita untuk dapat mengikuti pembelajaran di sana. Biasanya IELTS dan TOEFL yang dijadikan patokan oleh beberapa universitas.

Mendapatkan LoA
Nah, kalau pihak universitas sudah menyatakan kita pantas untuk belajar di sana, kita akan diberikan Letter of Acceptance/Offer. Ada dua jenis LoA yang biasanya diberikan kepada calon mahasiswa. Yang pertama adalah unconditional LoA, kalau kita sudah mendapatkan ini, berarti tidak ada persyaratan lain yang harus kita penuhi, alias kita sudah diterima :) Yang kedua adalah conditional LoA, nah, yang satu ini berarti ada salah satu persyaratan yang belum kita penuhi ketika mendaftar, biasanya univ memberikan waktu bagi penerima LoA jenis ini untuk melengkapi dokumennya. Kebanyakan penerima conditional LoA memiliki kendala pada sertifikat bahasanya.

Well, kurang lebih itu sih yang harus kita perhatikan ketika akan mendaftar di universitas luar negeri. Stay Positive yaaa!
Cheers!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons