Showing posts with label activity. Show all posts
Showing posts with label activity. Show all posts

14 Nov 2017

Wajah Baru Dolly (Eks Lokalisasi Terbesar se-Asia Tenggara

Pekan lalu, saya berkesempatan mengunjungi Dolly yang selama ini dikenal sebagai pusat lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara. Namun, ada yang baru dengan wajah Dolly sekarang lho! Dolly yang sudah ditutup oleh walikota Surabaya, bu Risma, kini telah bangkit menjadi pusat UKM yang cukup berkembang. Jadi, kalau menurut cerita ibu-ibu di sini, memang dulu pada galau kalau Dolly ditutup karena mbak-mbak yang dulu sering ngelaundry, beli makan di warung ibu-ibu ini, dan lain sebagainya sudah tidak tinggal di daerah itu sehingga pemasukan ibu-ibu menurun drastis. Tapi, ternyata bu Risma turun langsung untuk membantu warga di situ. Ada yang diberi pelatihan, modal usaha, dibimbing, sampai disediakan tempat untuk berjualan di balai kota.

Selain itu, ada GMH (Gerakan Melukis Harapan) yang membantu di sini. Denger cerita dari ibu-ibu ini seru banget. Nah, saat itu, terdapat beberapa UKM yang dapat dikunjungi dan saya juga beberapa teman memilih untuk mengunjungi UKM "Samijali" yang merupakan singkatan dari Samiler Jarak Dolly. Ada yang belum tahu apa itu samiler?

Samiler dengan beragam rasa
Samiler adalah camilan khas yang sering ditemukan di wilayah Jawa Timur. Sekilas info yaaa, samiler adalah kerupuk yang berbahan dasar singkong yang rasanya bikin nagih. Nah, kalau menurut sejarahnya, ibu-ibu di UKM Samijali ini awalnya menjual samiler sebagaimana biasanya, kerupuk singkong yang digoreng. Namun, setelah beberapa kali berjualan dan menemukan bahwa para pembeli samiler ini tidak ingin samilernya remuk (walaupun ujung-ujungnya ya dimakan juga diremukin, hehe). Mengetahui hal ini, para ibu-ibu berkonsultasi dengan teman-teman GMH untuk menemukan solusi agar samiler yang remuk tadi tetap laku. Akhirnya, terciptalah ide Samijali yang menjual samiler yang dengan sengaja digunting-gunting menjadi kecil kemudian diberi varian rasa dan dikemas apik!

Nah, buat teman-teman yang kebetulan sedang ada keperluan di Surabaya, gak usah ragu untuk mengunjungi Dolly sekarang. Dolly sudah berubah kok :) Selain itu, teman-teman pasti bisa menemukan hasil-hasil kreatif para warga di sana. Oh iya, selain Samijali, ada juga Orumy (minuman hasil olahan rumput laut) dan juga Tempe Bang Jarwo. 



10 Nov 2016

Ingin Terlibat dalam Program Indonesia Mengajar? Yuk!

credit: Tim Komsos Indonesia Mengajar
Karena sering share info tentang Indonesia Mengajar dan rekrutmen Pengajar Muda, jadi banyak pertanyaan yang ditujukan ke saya: 
"Kamu dulu ditempatkan di Indonesia bagian mana? Dulu salah satu Pengajar Muda ya? Bagi info dong gmn caranya jadi Pengajar Muda?" Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang masuk ke inbox >.< 

Faktanya, saya ini bukan salah satu former Pengajar Muda :) Kebetulan saya hanya terlibat dalam komite sosialisasi rekrutmen Calon Pengajar Muda yang bertugas untuk mengajak teman-teman di seluruh Indonesia untuk tertarik menjadi Pengajar Muda selanjutnya. 
Lah, bukan Pengajar Muda kok malah ngajak-ngajakin orang buat jadi Pengajar Muda sih?
Ya karena saya belum berkesempatan untuk jadi Pengajar Muda, makanya ngajakin orang lain hehehe

Sudah dua periode ini saya terlibat dalam komite sosialisasi ini, pengalaman yang didapat apa aja? Waah, banyak. Di sini, saya dapat teman-teman baru yang beberapa dari mereka juga merupakan former Pengajar Muda. Selain itu, yang terlibat dalam komite ini ternyata (menurut saya) bukan orang-orang biasa yang sekedar iseng buat mengisi waktu. Hampir semua anggota komsos (begini biasanya komite sosialisasi disebut) merupakan orang-orang yang tertarik untuk menjadi relawan di bidang apapun. Mereka orang-orang yang aktif berkontribusi untuk Indonesia, baik dalam skala kecil ataupun besar, baik di tingkat daerah ataupun nasional. Nah, berkumpul dengan teman-teman kece begini pasti jadi trigger juga buat kita dong buat jadi orang yang "gak biasa" juga. 

Selain itu, teman-teman yang tergabung dalam komsos ini juga sebagian besar sudah pernah mengikuti program Indonesia Mengajar lainnya, seperti Rubi (Ruang Berbagi Ilmu), Kelas Inspirasi, Ruang Belajar, Indonesia Menyala, dan masih banyak lagi. Jika kita belum berkesempatan untuk menjadi Pengajar Muda, program Indonesia Mengajar lainnya juga patut kita coba, karena lebih fleksibel namun pengalaman yang didapat tentu tak ternilai. 

Saat ini, pendaftaran Calon Pengajar Muda ke XIV akan segera dibuka. Nah, buat yang tertarik untuk bergabung, segera kepoin semua akun Indonesia Mengajar di berbagai media sosial yaa, jangan lupa merujuk ke websitenya juga.
Instagram: @pengajarmuda
Twitter: @PengajarMuda
Website: https://indonesiamengajar.org/ 
Semoga beruntung :) 

28 Oct 2016

KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya)

Sekilas tentang KIBAR Autumn Gathering 2016 (Southampton, 22-23 Oktober 2016)

KIBAR adalah singkatan dari Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya. Setiap musim semi dan musim gugur, umat Muslim Indonesia di UK selalu mengadakan gathering dengan mendatangkan pembicara utama dari Indonesia serta beberapa pembicara lokal. Tidak hanya mendengarkan tausiyah dan tanya jawab, biasanya kita juga mengadakan bazaar jajanan, masakan, dan bumbu-bumbu khas Indonesia. Selain itu, ada KIBAR cup juga bagi yang suka kompetisi. KIBAR gak cuma buat teman-teman Muslim yang sudah berkeluarga atau para mahasiswa senior kok, karena tema acaranya pun cocok buat kita-kita yang masih muda. Diskusi tentang kuliah juga gak jarang terjadi. Selain itu, KIBAR Gathering juga merupakan tempat yang pas untuk memperluas jaringan kita karena kita akan bertemu banyak peserta baru setiap musimnya. Disamping itu, KIBAR juga bekerja sama dengan KBRI untuk memberikan layanan konsuler bagi teman-teman yang memiliki berbagai kepentingan seperti lapor diri, penggantian paspor, meminta surat kepindahan, dan lain sebagainya.

Untuk musim gugur kali ini, Southampton menjadi tuan rumah KIBAR Gathering yang diadakan selama dua hari (22-23 Oktober 2016). Sejujurnya, pada awalnya, kami merasa 'agak' keberatan dengan keputusan ini mengingat jumlah masyarakat Indonesia di Southampton yang tergolong sedikit. Alhamdulillah, ternyata dengan massa yang sedikit juga, kami berusaha mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi para peserta KIBAR Gathering. Terlepas dari beberapa kekurangan yang pasti ada, kami cukup bangga dengan kekeluargaan teman-teman Southampton yang luar biasa. Semua anggota PPI Southampton, baik teman-teman mahasiswa, juga bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah berkeluarga pun ikut berpartisipasi dalam persiapan menjelang acara KIBAR Gathering. Persiapannya mencakup banyak hal mulai dari persiapan lokasi acara, perlengkapan, konsumsi, acara, olahraga, tour, bazaar, madrasah bagi anak-anak, transportasi, dan lain sebagainya. Bahkan teman-teman yang non-Muslim pun antusias membantu berbagai persiapannya dan ikut meramaikan bazaar (terima kasih sudah beli banyak, hehe).

KIBAR Autumn Gathering kali ini mengundang Dr. Amir Faishol Fath, MA yang membahas tentang Islah dan Mashlahah: Menjadi Muslim yang produktif. Disamping itu, ada beberapa informasi mengenai Islamic Centre di UK dan program-program dakwah di UK. Mengingat lokasi Southampton yang berada di ujung selatan UK, jumlah peserta yang hadir benar-benar diluar ekspektasi (mbludak) hehe. Di satu sisi kami sangat senang, di sisi lain, kami deg-degan, bisa atau tidak ini menjamu kurang lebih 400 orang dengan kapasitas sumber daya manusia yang cukup sedikit. Alhamdulillah, secara umum acara berjalan lancar, walaupun pastinya ada beberapa kendala dan kekurangan kami. Beberapa hari kurang tidur dan lelah yang terbayarkan dengan pesan positif yang disampaikan oleh beberapa peserta yang berpamitan pulang, juga pesan singkat yang sampai ke kotak masuk kami. Sebagai salah satu panitia, saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman semua. Semoga kuliahnya lancar dan jangan kapok yaa kalau ada kegiatan besar lagi yang akan diadakan di Southampton. Kalian semua membanggakan :)
Tons of hugs :*

Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati kita semua untuk bersilaturahim, menuntut ilmu, dan berbagi pengalaman. Paling tidak, ada beberapa kisah yang bisa menjadi cerita kelak di masa mendatang, dan ada kontribusi kecil dari kami yang bisa diberikan bagi masyarakat Indonesia di negeri yang asing ini :)

30 Aug 2016

Dirgahayu Indonesiaku, Berkibarlah Benderaku, from Southampton, with Love



credit: PPI Southampton
Walaupun agak sedikit terlambat, namun kemeriahan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Southampton sama sekali tidak berkurang. Dikarenakan cuaca yang kurang mendukung, kami, PPI Southampton tidak memungkinkan untuk merayakan 17 Agustus bertepatan pada tanggal yang seharusnya.

Acara pagi itu sangat meriah. Walaupun peringatan ini sangatlah sederhana, tanpa ada upacara serta petugasnya, bendera merah putih tetap berkibar di sini. Lagu kebangsaan tetap bergema dan semangat kemerdekaan tetap terasa. Persiapan di hari-hari sebelumnya, mulai dari persiapan pembuatan bendera-bendera kecil yang akan dikibarkan oleh masing-masing dari kami, garland untuk hiasan, makanan, persiapan peralatan lomba, dan lain sebagainya merupakan hal yang juga menguatkan rasa persatuan kami. 

credit: PPI Southampton
Pada perayaan tahun ini, para ibu-ibu di Southampton ikut berperan penting dalam permbuatan tumpeng juga kue ulang tahun untuk Indonesia. Selain itu, menu-menu yang disediakan benar-benar mampu mengobati kerinduan kami akan masakan khas tanah air yang memang pantas untuk dirindukan. 
credit: PPI Southampton
Para anggota PPI juga sudah menyiapkan beragam lomba, mulai dari lomba balap karung, tarik tambang, balap kelereng, sepak bola sarung, juga makan donat (karena tidak ada kerupuk yang biasa digunakan seperti di Indonesia, adapun harganya mahal sekaliii, hehe). Anak-anak, para pelajar, juga keluarga Indonesia di Southampton sangat bersemangat dalam mengikuti semua lomba. Karena acara diadakan di taman, ada beberapa warga lokal yang sangat tertarik dan seketika kami undang untuk bergabung. Mereka sangat menikmati makanan Indonesia yang kami sajikan. Tidak hanya tumpeng dan kue, kami juga membuat bakso dan kambing guling. 
credit: PPI Southampton
Walaupun jauh dari keluarga di Indonesia, kami selalu menemukan keluarga dalam setiap kebersamaan dengan warga Indonesia di sini. Home is where your heart is. It's not necessarily your house, because a house might not be a home :) 



30 Jun 2016

Tidak Sulit Puasa 19 Jam di Inggris


Artikel dari Suara Surabaya


suarasurabaya.net - Navila Roslidah mahasiswa asal Kota Surabaya yang sedang menempuh studi strata dua Applied Linguistics for Language Teaching di University of Southampton, Inggris, menceritakan pengalamannya menjalani puasa di negeri tersebut.

Awalnya, Navila mengaku sangat antusias sekaligus khawatir setelah tahu kalau puasa di Southampton berdurasi hampir 19 jam atau lebih (berbeda daerah, berbeda lama puasanya). Bahkan, pada hari pertama puasa, dia harus berpuasa selama 19,5 jam karena pada saat itu dia sedang mengunjungi temannya yang berada di Kota Edinburgh, Skotlandia.

"Awalnya saya berpikir akan kesulitan karena belum terbiasa berpuasa selama itu. Namun setelah dijalani, puasa selama 19,5 jam tidak sesulit yang dibayangkan. Dimanapun kita berada saat ini, Allah pasti memberikan kemudahan bagi umatNya untuk beribadah. Selama ada niat, insya Allah ada jalan dan kemudahan," katanya dalam surat elektroniknya, Rabu (29/6/2016).

Menurutnya, selain karena tidak ada perlakuan khusus bagi orang Islam selama puasa, kegiatan tetap berjalan layaknya hari biasa dan suhu udara di sana membuat mereka tidak merasakan dahaga.

"Allah itu Maha Adil kan, negeri-negeri di mana penduduk muslimnya harus berpuasa selama itu adalah negeri-negeri yang memang mendukung masyarakat muslimnya untuk melaksanakannya. Mungkin puasa di Indonesia lebih berat hehe.. Kebetulan saya tinggal di Surabaya yang suhunya di atas 30 derajat, terkadang hampir 40 derajat," ujar Navila.https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEj7qhlmauUnz64pkwf1FW5w7g0ysFpm7B94qJb3ndJ2DlfwgZHERVRvt9QtsQ2sRieB3Zgd9LCZTPSD0sU6ycC-B5MmYyhVGCofYZKkb4jnSBmqVDsqdC8rvZzER_7XZhIbxD445dMIQaBfG_O-0lBs3db9wLlCYFvpn3aVGFqtGBUBuf5Ar74GfDxc9fyP-c7FzQHLbMQnVUU_bVGFp_b9L20RHSU=Pada Ramadhan kali ini, ada hal-hal baru yang dia temukan di Southampton. Teman-temannya yang sesama muslim yang berusaha menghidupkan suasana Ramadhan. Bersama beberapa teman internasional lainnya, dia sering melakukan iftar bersama di mushola atau masjid terdekat.

Uniknya, di masjid itu, tidak hanya takjil yang disuguhkan, namun juga tersaji makanan berat untuk berbuka puasa. "Karena banyaknya donatur yang antusias menyediakan makanan bagi teman-teman muslim di sini, terkadang kami pulang dengan makanan yang bisa kami nikmati sebagai santap sahur, semoga rejeki mereka barokah!" ujarnya.

Terkadang mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Inggris Raya merindukan masakan berbuka puasa khas Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengobati rasa rindu akan makanan dan suasana berbuka puasa ala keluarga Indonesia, mereka sering mengadakan buka bersama di kalangan masyarakat Indonesia. Teman non-muslim lainnya pun turut meramaikan acara bertema rindu kampung halaman tersebut.

"Saya menyempatkan diri untuk pergi ke luar kota, hanya untuk merasakan sahur bersama teman-teman, agar tidak sahur sendirian di dapur hall kampus. Bagaimana rasanya? Menyenangkan pastinya! Jauhnya kami dari tanah air dan keluarga, membuat hubungan kami di sini layaknya keluarga," ujarnya.

Waktu berbuka yang cukup larut, membuat umat muslim di sana juga hingga lewat tengah malam hingga tidak tidur karena sempitnya waktu antara berbuka dan sahur. "Biasanya, sholat tarawih akan berakhir sekitar pukul 00.30 atau 01.00 dini hari, setelah itu dilanjut santap sahur karena sekitar pukul 02.30 adzan subuh sudah berkumandang," kata Navila.

Oleh karena itu, salah satu tantangan berpuasa di sini adalah mengatur jam tidur dan kegiatan lainnya di kampus. "Kebetulan saya masih harus menghadiri kelas yang dimulai pagi hingga sore hari. Selain itu saya harus mulai mengerjakan tesis yang akan dikumpulkan di bulan September nanti. Terkadang rasa lapar tiba-tiba datang karena harus berpikir keras, hehe. Namun di situlah seninya," lanjut dia.

Selain berpuasa, Navila merasa Allah juga memberikan mereka kesempatan untuk berdakwah melalui respon teman-teman internasionalnya yang belum banyak bersentuhan dengan kebiasaan Islam.

"Mereka dengan detail menanyakan bagaimana puasa itu, mengapa kami umat Islam harus berpuasa, hingga pertanyaan tentang berjilbab dan shalat. Saya merasa beruntung karena dengan begini, kami yang jauh dari lingkungan masyarakat muslim dapat turut menyampaikan bagaimana Islam yang sebenarnya terlepas dari berbagai isu yang beredar di dunia luar," katanya.(iss/ipg)



1 May 2016

Ini tentang Traveling

Traveling memiliki makna melakukan perjalanan. Bisa jadi hal ini dilakukan untuk melepaskan segala tekanan yang didapatkan dari rutinitas dan tuntutan profesi. Selain itu, kita dapat melihat sesuatu yang baru. Entah itu budaya, bahasa, bangunan, pemandangan alam, bahkan makanan. Namun, apakah esensi travelling berhenti di situ? Sejatinya, manusia memang membutuhkan waktu khusus untuk me-recharge energi (physically and mentally), namun bukan melulu tentang itu. 

Saya ingin berbicara sedikit (agak banyak mungkin) tentang travelling. Awalnya, tujuan saya melakukan travelling memang sesederhana ingin menemukan hal baru, ingin melihat dunia luar, ingin melepaskan stress yang mungkin saya rasakan ketika itu. Namun, seiring dengan perjalanan yang telah saya lalui dan hal baru yang saya temui, saya pun sadar bahwa esensi travelling tidaklah sesederhana tujuan awal saya. 

Ya! Saya menemukan kebesaran Allah di setiap tempat yang saya kunjungi. Saya menemukan kebesaran Allah di setiap kejadian yang saya alami. Saya pun menyadari betapa manusia itu begitu kecil dan lemah di hadapan segala ciptaanNya. Gunung, samudera, hamparan gurun pasir, padang rumput yang hijau, hingga semburat cahaya senja di langitNya terasa sangat mengintimidasi dan di saat yang bersamaan membanjiri hati dengan rasa syukur. Ya, saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk melihat belahan bumi yang mungkin belum pernah dilihat oleh sebagian besar orang terdekat saya. 

Ketika itu, saya pun teringat sebuah kutipan dari sahabat Rasulullah SWT, Ali bin Abi Thalib yang berbunyi, "Aku sudah banyak merasakan kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia."
Kemudian terbesit beberapa pertanyaan, masihkah kita menggantungkan harapan pada manusia yang lemah ketika kita memiliki Allah yang Maha Kaya dan Maha Memberi sesuatu yang bahkan tak pernah kita pinta? Masihkah kita berharap pada manusia yang selalu lalai dan ingkar ketika kita memiliki Allah yang Maha Segalanya yang bahkan memberi kita kehidupan? Saat ini, cobalah pejamkan mata dan merenung, tak ada sesuatu Dzat di dunia ini yang memiliki kapasitas sebagai tempat bergantung, tempat berharap dan tempat bersandar selain Allah SWT.

Semoga perjalanan yang kita lakukan akan selalu mengingatkan kita akan kebesaranNya. :) 

2 Apr 2016

What is it like to be a Muslim in Britain today?

Article published in PPI Southampton

Assalamu'alaikum :)
Many people asked me to share a story about being a Muslim in Britain. Is it hard to do salah (praying)? Is it hard to find and eat halal food? What about the local culture?
Well, the answer is both hard and easy :)

Salah
Being asked about the praying matter, I can only say that it depends on individuals since it has something to do with our desire to do it or not, lol. When there is no will to do it, we will easily say: it is really hard to do! Several months ago, in September to be exact, I arrived in England to continue my study. Of course, at the beginning, I was confused where the Qibla direction is. The first attempt that I did was installing some mobile apps that can show me the direction. At that time, I tried to combine several apps to make sure that I face the right direction when I’m praying. Okay, it is easy to do praying at home since I can perform wudu (a ritual of washing (ablution) several parts of our body before praying) well and have a proper place to pray. However, it becomes really hard to do it outside (since I was a newcomer at that time). In the first week, due to an outside activity, I did my prayer on the riverside park with my coat as a mat because I didn’t know more proper place to do it around that area (Muslim needs to do prayer 5 times a day and there is also the prescribed times to do it Fajr—near dawn, Zuhr—just after midday, Asr—late afternoon, Maghrib—just after sunset, and Isha—after dark). I did wudu with a bottle of still water that I brought, fortunately I brought my prayer clothes. The week after, I finally found several mosques around city centre. Alhamdulillah :)
In campus, I can do prayer in a more than decent Muslim prayer room. We, Muslim, are well-facilitated by our campus so that it is really easy to pray even we still has a lecture. Sometimes, I just leave the class for a moment to do it in the prayer room because in winter, we don’t have much time since the daytime is shorter :) but in summer, we have a longer daytime which is really convenient to wait until the class is over. Well, I can say that where there’s a will there’s a way, InsyaAllah :)

Halal Food
Southampton is one of the cities around UK that has less halal food (compared to other big cities with more Muslim population). However, that is not the reason to prevent me to find halal food :) Before coming here, I have thought about it and prepared some canned sardines from Indonesia and in my first week in the UK, I bought and ate fruits and fish only lol. After being accustomed to the transportation here, I started to visit several places around campus and city centre. Alhamdulillah, I found halal Turkish restaurant near campus and some other halal restaurants :) Okay, I found some restaurants yet I still want to make my own meal :p As recommended by my previous lecturer who has been in the UK before me, I went to a supermarket that provides halal meat as well, and found it! Halal meat and chicken! There is one special section for halal stuff in supermarket, alhamdulillah :) once more, where there’s a will there’s a way :)

Local Culture
Well, I’m a student in a multicultural classroom. The way we interact and socialize, of course, is defferent. After several weeks of our study, some of my local friends asked the member of the class to chill out in the university pub. The time suggested was also really late in the evening. I can turn down the first invitation (sorry about it guys :p) but I couldn’t bring myself to do it when another one is coming :D so, I tried to explain my condition about being a Muslim :) I am forbidden to drink alcohol and any food contains it. Besides that, I am only allowed to eat halal food (no pork! For other kinds of meat are allowed if halal-slaughtered) :) Fortunately, my friends are really considerate and the next time we are going out, we always choose the convenient time for everyone, and of course, convenient restaurant with halal food or vegetarian meals. Once more! We only need to try :) It is easy or not is just a matter of our will and effort. The good thing about being Muslim in UK, for me, I began to realize that while in Indonesia I was too careless. I feel secure and comfortable with everything supplied, especially food, without having further consideration about the food I consumed, is it halal or not? Are those chicken or beef sold in the market are halal (halal-slaughtered)? Well, I don’t know :( Here, in the UK, I need to be more careful before buying food, even for chocolate, I need to look at the ingredients first. Thanks MUI (Indonesia's top Muslim clerical body) who always try to make sure that Indonesian people eat halal food. I hope that the examination for food and any other things in Indonesia is done regularly so that it can help as on the assurance of halal food we eat :)

Wallahu a’lam bishawab


10 Mar 2016

Bagaimana sih Rasanya jadi seorang Muslim di Inggris?


Assalamu'alaikum :) 

Banyak banget yang tanya bagaimana sih rasanya jadi seorang Muslim di Inggris? Susah gak menjaga sholatnya? Susah gak makan makanan halal? Susah gak untuk menghindari pengaruh sosial yang tidak islami? 
Well, jawabannya susah susah gampang :D 

Menjaga Sholat
Kalau ditanya susah gak menjaga sholat? Masalah menjaga sholat sebenarnya bergantung pada pribadi masing-masing karena itu berhubungan dengan faktor keinginan hehe. Ketika tidak ada keinginan untuk menjaga sholat, sudah pasti akan langsung menjawab: susah! 
Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan September, saya tiba di Inggris untuk melanjutkan studi. Memang, pada awalnya, saya saja bingung ini sholat menghadap ke mana karena tidak ada petunjuk arah kiblat, usaha pertama yang dilakukan ya menggunakan aplikasi yang dapat membantu menunjukkan arah kiblat, saat itu saya mengombinasikan beberapa aplikasi untuk make sure kalo arah yang saya tuju memang benar. Oke, kalau posisi di rumah mungkin lebih gampang untuk sholat, nah kalo diluar? Di minggu pertama tiba, saya sempat sholat di riverside park dengan alas jaket dan wudhu dengan sebotol air mineral yang saya bawa (saya juga kebetulan bawa mukenah waktu itu) karena sama sekali clueless di mana tempat sholat yang proper. Di minggu-minggu selanjutnya akhirnya saya menemukan lokasi-lokasi masjid yang bisa saya kunjungi di sekitar city centre. Alhamdulillah :) 
Untuk di kampus, sudah disediakan dan difasilitasi dengan sangat baik, jadi sangat mudah kalau sedang ada kelas, terkadang keluar sebentar untuk sholat karena waktu sholat yang agak mepet dan bertabrakan dengan jadwal kuliah. Selama mau usaha, insyaAllah ada jalan dan mudah! :) 

Makanan Halal

Untuk makanan halal, Southampton (daerah tempat saya tinggal) termasuk tempat yang sangat jarang makanan halalnya dibandingkan kota-kota lain di Inggris. Namun, bukan berarti gak usaha juga buat nyari yang halal kan :D Karena sudah kepikiran masalah ini, saya sudah bersiap membawa beberapa kaleng sarden dari Indonesia dan beli hanya buah dan ikan di Inggris lol. Setelah mulai terbiasa dengan transportasi dsb, saya pun mulai mengunjungi beberapa tempat, alhamdulillah di dekat kampus ada restaurant Turki halal juga beberapa restaurant halal lainnya. Oke, restaurant sudah, tapi masa iya makan itu terus? Pengen masak juga sih. Sesuai rekomendasi dari ibu dosen saya yang lebih dulu ke UK, katanya supermarket di UK menyediakan daging dan ayam halal juga kok, ada sectionnya sendiri :) Berangkatlah saya dan ketemu! Eh, ternyata di daerah city centre juga ada satu jalan yang dipenuhi dengan toko penyedia bahan makanan halal, bahagia kuadrat judulnya :D Sekali lagi, yang penting usaha nyari! haha


Pengaruh Sosial
Yang namanya kuliah, pasti donk kita punya teman sekelas, yang juga beragam. Karena kampusnya internasional, mahasiswanya juga multikultural. Cara mereka bersosialisasi pun berbeda. Beberapa minggu setelah perkuliahan, beberapa teman lokal melontarkan ajakan pada teman sekelas untuk nongkrong supaya lebih kenal. Waktu yang diusulkan pun cenderung malam dan ngajaknya ke pub pula haha. Pertama, bisa sih ditolak, karena 'sungkan' saya pun menolak dengan alasan entah apa waktu itu --" Ajakan selanjutnya, saya mulai mengajukan penawaran dan menjelaskan kondisi saya di mana saya tidak diperbolehkan untuk minum alkohol, eh ternyata mereka mudah mengerti, tau gitu dari awal dibilangin aja. Akhirnya selanjutnya mereka lebih memikirkan kebutuhan kita, mulai dari segi waktu juga makanan halal atau vegetarian yang disediakan hehe. Sekali lagi, usaha! 

Masalah gampang atau egak sebenernya bergantung usaha dan niat kita aja. Justru semenjak tinggal di sini saya mulai sadar kalau selama di Indonesia saya terlalu ceroboh dan merasa aman juga nyaman dengan segala yang disediakan. Tanpa bingung memikirkan halal tidaknya makanan yang saya konsumsi. Apa iya itu ayam atau sapi yang dijual di pasar halal semua (disembelih sesuai dengan aturan Islam)? Duh, entah :( Di sini mau beli cokelat aja pake diperiksa ingredients nya (sangat lebih berhati-hati). Terima kasih MUI yang sudah berusaha memeriksa segala sesuatu untuk masyarakat Indonesia. Semoga saja pemeriksaan yang dilakukan benar-benar berkala dan benar-benar membantu kami atas terjaminnya makanan halal yang masuk ke tubuh kami.
Wallahu a'lam bishawab

20 Feb 2016

Belanja Ala Indonesia (Southampton)

Article published in PPI Southampton

Helloooooo, gimana nih rasanya tinggal di Inggris? Udah ngimpi-ngimpiin Indonesia belom? Haha
Sabar yaa, gak susah kok buat adaptasi di sini. Awalnya sih memang susah, tapi kita-kita yang udah beberapa bulan tinggal di sini akhirnya bisa bertahan hidup juga. >.<
Jadi, tulisan kali ini bakalan fokus ke di mana kita bisa dapetin bahan makanan “ALA INDONESIA” di Inggris, khususnya Southampton, yang notabene menyajikan makanan dengan bumbu yang minimalis dan bahan yang cukup normal. Bukan berarti orang Indonesia makannya gak normal yaa, cuman kita terlalu kreatif aja sampe bahan makanan yang di sini bakalan ‘dibuang’ bisa kita olah jadi makanan yang super enak dan Indonesia banget!!!
Oke, kita mulai bikin list yaa, bahan makanan yang populer dan dibutuhin banget sama masyarakat Indonesia. Mulai dari yang biasa sampe luar biasa!

REMPAH DAN BUMBU

Cabe
Di UK, cabe ini komoditi yang agak susah-susah gampang untuk dipilih, dipilih yaa, bukan dicari. Berdasarkan pengalaman pribadi, sempet coba-coba beberapa jenis cabe yang tersedia di minimarket dan supermarket di sini, alhasil, masakannya agak sedikit lucu. Pedes sih, Cuma jadinya gak sedep, ada pait-paitnya gitu, lol. Dan akhirnya, ketemulah cabe yang cocok sama lidah orang Indonesia, namanya birds eye chili atau Thai red chili. Harganya memang lebih mahal daripada cabe yang lain, kalo penggemar makanan pedes yang sedep sih ya apa boleh buat, beli aja. Cabe ini bisa dibeli di International Food (Portswood), Sainsbury’s, dan Burgess Store.

Terasi
Nah lhoooo. Cabenya udah, kalo gak ada terasi, gak bisa bikin sambel yang nendang donk. Terasi ini sebenernya bisa dibeli di Burgess Store dan International Food. Mungkin agak beda, tapi gak beda jauh kok, bisa dibilang mirip, jadi gak usah kuatir kesulitan nyari terasi di sini. Maafkan karena saya lupa merek terasinya, ada kata belacan nya aja pokoknya. Bisa tanya ke petugas di toko kok

Bawang Merah
Mungkin selama ini kita kenalnya bawang putih itu garlic, bawang merah itu segolongan sama bawang Bombay yang disebut onion. Tapi kalo nyarinya onion, di sini dapatnya ya bawang Bombay, entah yang Bombay biasa atau Bombay merah. Rasanya? Jelas beda sama bawang merah yang biasa kita pake di Indonesia. Sekali lagi, gak perlu kuatir kesulitan nyari bawang merah kita, di sini namanya shallot. Memang harganya jauh lebih mahal dari onion, sekitar 4 – 5 pounds sekilo, tapi sesekali boleh lah beli yang ini. 

Rempah
Jahe (ginger), kunyit (turmeric), lengkuas (galangal), pala (nutmeg), daun salam (bay leaf), daun jeruk (lime leaf), serai (lemongrass) dkk bisa ditemukan di St Mary’s, International Food dan Burgess Store. Selama ini sih kalo nyari yang segar bisa ke St Mary’s, kalo yang udah bubuk, dalam kemasan dan frozen bisa dibeli di International Food dan Burgess Store. Cuma sampai sekarang belum sempet ketemu sama kencur.

TEMPE DAN TAHU
Bahan untuk buat sambel sudah lengkap, sekarang tinggal lauknya. Tempe dan tahu memang lauk yang paling klop sama sambel terasi, sambel bawang, dan sambel lainnya  Tahu dan tempe bisa dibeli di Burgess Store juga, tempenya frozen sih, kalo mau yang gak frozen, biasanya ada kok anggota PPI yang bisa buat, tapi musiman, jadi selamat menanti dan semoga beruntung. Di Burgess Store ada macam-macam tahu, biasanya tahu yang namanya Tau Kwa (kalau gak salah spelling) yang enak, atau bisa pilih merek lain yang menjelaskan kalau itu firm tofu. Karena susahnya memproduksi tahu dan tempe di sini, kita gak bisaexpect harga tahu dan tempe itu murah yaa

JEROAN
Ampela, hati, babat, lidah (lidah termasuk jeroan gak ya?) ada juga kok di Southampton. Sekali lagi, sepanjang jalan St. Mary’s banyak sekali toko yang menjual daging halal beserta jeroannya. Jeroan ini harganya terjangkau kok, gak mahal, lebih mahal cabe dan bawang merah haha. Selain di St. Mary’s, International Food juga menyediakan jeroan kok.

KEPALA DAN KIKIL
Tiba juga kita di bahan makanan yang agak ekstrim, bahkan gak semua orang Indonesia doyan makan ini. Kepala kambing dan kikilnya (kaki). Sekedar info, krecek/cecek itu beda yaa sama kikil. Nah, kepala dan kikil ini juga bisa didapatkan di St. Mary’s 

BONUS

Indomie
Bonus yaaa, kenapa bonus? Karena Indomie bukan termasuk bahan makanan, tapi makanan pokok bin wajibnya orang Indonesia *eh haha. Indomie gampang didapatkan kok, tapi, setelah melakukan perbandingan atas beberapa Indomie yang dibeli di beberapa tempat berbeda, akhirnya diputuskan bahwa rasa Indomie yang mendekati Indonesia banget itu yang bisa dibeli di Burgess Store. Tapi, tetep, Indomie di sini gak punya saus sambal merah kayak di Indonesia. Walaupun kurang nendang, paling tidak bisa ngobatin kangen sama msg yang terkandung di dalamnya.

Milo
Setelah satu semester tinggal di sini, akhirnya ketemu juga ini Milo. Siapa tahu ada yang butuh dan doyan banget sama milo *kayak saya* semoga info ini membantu. Milo bisa dibeli di toko Global yang ada di St Mary’s road juga. Terakhir beli, untuk 500g milo, harganya hampir 5 pounds hehe.

Beras Pulen
Info tambahan juga untuk beras J Bagi yang gak bisa makan nasi pero/pera bisa memilih Thai Jasmine Rice, beras ini pulen kok. Beberapa merek yang sudah pernah saya coba itu Royal Umbrella, Dragon, satu lagi lupa (Cuma ingat bungkusnya warna biru). Kesimpulannya, sampai saat ini, Royal Umbrella masih yang paling oke menurut saya.

Cobek dan Uleg-uleg
Walaupun judulnya cuma bahan makanan, sekalian deh peralatannya. Sebenernya, bukan uleg-uleg atau cobek yang normal dipakai di Indonesia, tapi cukup bermanfaat dan bisa menggantikan fungsi cobek untuk nyambel, hehe. Cobek dan uleg-uleg ini namanya Mortar, bisa dibeli di IKEA dengan harga 10 pounds J

Info detail untuk toko dan alamatnya
Burgess Store             : 210 Burgess Rd, Southampton SO16 3AY
International Food    : 168-174 Portswood Rd · 023 8067 1177
St. Mary’s Road         : Pada dasarnya, ini nama jalan di mana banyak toko daging halal di sepanjang jalan ini, tapi biasanya, Global Food and Halal Meat Centre yang biasa dikunjungi beralamat di 55-56 St Mary’s Pl, City Centre, Southampton SO14 0BH
IKEA                           : W Quay Rd, Southampton SO15 1GY
So, hidup di Inggris gak se-horor yang dibayangkan kok. Gak susah buat adaptasi dengan orang-orangnya, budayanya, makanannya (apalagi kalo sering bikin makanan sendiri, gak berasa di Inggris, lol). Yang agak susah buat kita mungkin beradaptasi dengan cuacanya yang super duper galau. Jadi, kesimpulannya, gak perlu bawa beban terlalu berat untuk membawa rempah dan bahan dari Indonesia untuk keperluan selama studi di sini (1-4 tahun) karena beban belajar dan beban hidup kita sudah berat hahaha.


CHEERS!

15 Dec 2015

Madrasah PPI Southampton Kids

Mungkin karena memang dasarnya gak bisa diem dan suka banget berkecimpung di dunia pendidikan, saya pun menerima tawaran sebagai salah satu pendidik di madrasah PPI Southampton. Madrasah ini sebenarnya hanya untuk memfasilitasi adek-adek yang juga tergabung dalam PPI Southampton (dikarenakan orang tua mereka yang juga student di sini) yang mana tidak mendapat pendidikan agama di sekolah formal mereka. Selain itu, madrasah yang berlangsung seminggu sekali ini juga menjadi ajang silaturahim bagi para orang tua dan anggota pengajian lainnya.

Karena keberagaman usia yang ada dalam madrasah ini, kami pun berusaha untuk memfasilitasi mereka semua. Pastinya, kami juga berusaha sebaik mungkin untuk melatih bacaan Qur'an mereka. Disamping itu, setiap minggunya, adek-adek ini juga setor hafalan surat pendeknya :) Nah, bagaimana dengan mereka yang masih sangat kecil? Iya, memang banyak dari mereka yang baru berusia sekitar 4 tahun bahkan kurang. Kami tetap mengenalkan huruf hijaiyah pada mereka. Terkadang kami memperkenalkan kehidupan Islam melalui mewarnai gambar atau huruf hijaiyah. Tidak berhenti sampai di situ, kami pun belajar bersama tentang sejarah Islam, tentang nabi dan rasul, bahkan tentang para penemu muslim jaman dahulu.

Berikut link video yang berisi sedikit cuplikan kegiatan madrasah :)
Madrasah Southampton Kids

16 Sept 2008

Buka Bersama


Buka bersama adalah salah satu agenda wajib ketika Ramadhan tiba. Acara ini menjadi salah satu ajang silaturahim dalam suatu komunitas. Pada kesempatan kali ini, penghuni kelas XII IPA 5 Smamda Sidoarjo mengadakan acara buka bersama untuk mempererat tali persaudaraan yang ada. Uniknya, kita di sini tidak hanya datang dan makan saja, kita semua saling membantu dari proses persiapan makanan, persiapan tempat, hingga penyajian hidangan berbuka. Pastinya, setelah selesai ada juga acara pembersihan piring kotor yang dilakukan secara jama'ah lol. 

Karena Ramadhan adalah momen yang sangat pas untuk memperkuat tali silaturahmi dan mempertebal iman kita, salah satu agenda kita tentunya sholat jama'ah. Beruntung salah satu teman kita bersedia jika rumahnya kita gunakan untuk kegiatan ini. Semoga ke depannya kita selalu dapat menjaga tali silaturahmi yang sudah ada ini :) 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons