30 Jan 2015

LPDP: Second Try

"Do not brood over your past mistakes and failures as this will only fill your mind with grief, regret and depression. Do not repeat them in the future."
-Swami Sivananda

Masa Perenungan
Dalam coretan tentang beasiswa LPDP sebelumnya saya sempat bercerita tentang kegagalan saya mendapatkan beasiswa ini. Oke, kemarin gagal dan saya menenangkan diri untuk bersiap mengikuti tahap selanjutnya. Sayangnya, aturan LPDP bahwa yang tidak lolos seleksi wawancara harus menunggu selama dua periode sebelum dapat mendaftar kembali. Sembari menunggu, saya mencoba meyakinkan kembali orang tua saya (tentu saja dengan melihat situasi yang sudah sedikit membaik saat itu). Alhamdulillah, suara orang tua saya sudah bulat dan mereka mendukung sepenuhnya akan rencana saya untuk melanjutkan kuliah.  
Setelah gagal mendapatkan beasiswa, tentu saja perasaan ini rasanya campur aduk. Namun, sebisa mungkin saya berusaha untuk merenungi apa yang terjadi. Saat itu orang tua saya membutuhkan saya, saat itulah saya sadar, kalau bukan saya ya siapa lagi? 

Mencoba (lagi)
Ketika tiba saatnya untuk mencoba lagi, saya pun mengumpulkan dokumen yang sama dengan sedikit perubahan menyesuaikan dengan kegiatan saya enam bulan terakhir. Saya sangat yakin saya mampu melewati seleksi administrasi. Benar saja, ketika pengumuman hasil seleksi administrasi, saya menemukan nama saya dalam daftar peserta yang lolos seleksi wawancara. Saya kemudian menyampaikan berita ini pada kedua orang tua saya, dan responnya sangatlah baik :) alhamdulillah, sepertinya mereka sudah ridho untuk membiarkan saya berusaha melanjutkan kuliah dan mendukung penuh keputusan saya :) 

LGD dan Wawancara
Seperti sebelumnya, jadwal LGD dan wawancara saya tidak di hari yang sama, sehingga saya harus kembali ke lokasi keesokan harinya. Selain memberikan pelajaran bahwa ridho Ayah dan Ibu sangatlah penting, kegagalan sebelumnya secara tidak langsung membuat saya lebih siap menghadapi seleksi di periode ini. Anggap saja kegagalan kemarin sebagai latihan :)
Alhamdulillah LGD berlangsung lancar dan teman sekelompok sempat bertemu sebelum proses LGD dan makan siang bersama di kantin Unair waktu itu setelah LGD selesai. Keesokan harinya, wawancara pun berlangsung. Karena tidak ingin kegagalan sebelumnya terulang, saya pun mengosongkan jadwal di hari itu, kebetulan juga jadwal wawancaranya pagi, alhamdulillah :)
Sebelum masuk ke ruang wawancara, saya bertemu beberapa teman yang mendapatkan meja interview yang sama. Kami pun berbincang dan merasa tidak ingin kehilangan kontak satu sama lainnya mengingat kami sama-sama passionate di bidang masing-masing. Kami pun bertukar kontak dan masih berhubungan baik hingga sekarang, bahkan terkadang membahas project yang mungkin bisa dikerjakan bersama :) well, tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. 
Saat di meja wawancara, saya sudah tidak merasa nervous sama sekali (entah karena siap berhasil atau siap gagal haha). Alhamdulillah proses wawancara berjalan lancar dan saya berusaha untuk menjawab semuanya dengan jujur dan sesuai dengan bidang dan kemampuan yang memang saya miliki. Saya merasa menjadi diri saya sendiri saat itu, tanpa perlu mencoba membuat para interviewer amaze dengan kemampuan atau karya saya. Satu hal yang saya ingat akan pertanyaan interviewer yang membuat saya menjawab dengan sedikit pasrah namun optimis :) 
"Apa yang akan kamu lakukan setelah nanti kembali dari menjalani studimu?" 
saya pun mencoba realistis dengan kondisi yang memang saya alami dan menjawab, 
"Sejujurnya saya ingin memperbaiki sistem pendidikan yang ada di negeri ini, namun saya tahu di mana batas kemampuan saya, saya akan kembali dan berusaha mendukung pembangunan pendidikan Indonesia dari bawah, dari dasar. Saya hanya mampu turun ke masyarakat dan mengamalkan ilmu yang saya miliki melalui pendidikan entah formal maupun informal. Karena pada dasarnya, generasi penerus lah yang perlu diperbaiki, bukan mereka yang sudah berada di atas sana." 
Jawaban itu pun mengakhiri proses wawancara hari itu. 

Pengumuman (lagi)
Alhamdulillah! Terima kasih, Ayah, Ibu, atas doa dan dukungannya! 

30 Aug 2014

LPDP: Ketika Ridho Orang Tua Menentukan

Ridho orang tua memang salah satu hal yang sangat menentukan bagaimana sebagian besar jalan hidup saya terjadi! Begitu pun dengan kisah perburuan beasiswa yang saya lakukan. Saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang apa yang saya alami, karena kisah ini bukanlah kisah yang memiliki 'happy ending', tapi semoga dapat menyadarkan kita semua akan satu faktor yang sangat menentukan jalan yang akan kita tapaki di kemudian hari.

Lanjut Kuliah?
Sebelum berkeinginan untuk melanjutkan kuliah, saya hanya ingin bersyukur karena saya mampu menyelesaikan pendidikan S1 saya karena saya tergolong orang yang (karena kondisi tak terduga saat itu) tidak mampu untuk bersekolah tinggi, bahkan saya hampir saja tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang menengah pertama, tetapi terima kasih pada kedua orang tua saya yang mampu menjadi orang tua hebat sehingga sampai sekarang saya dapat mengenyam pendidikan yang layak :) Banyak sekali drama tersembunyi dalam perjalanan pendidikan saya yang mana belum siap saya sampaikan :D
Selepas S1 saya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, saya tidak punya pangkat untuk menjadikan suara saya didengar, karena lingkungan saya bukan lingkungan yang mau mendengarkan apa KONTEN dari ucapan saya, namun SIAPA saya. Saya tidak mempunyai kekuatan untuk merubah segala sesuatu yang sudah ada, yang saya mampu adalah mengamalkan ilmu yang saya miliki di bidang pendidikan untuk membantu mendidik mereka yang membutuhkan. Sepertinya "undzur ma qola wa laa tandzur man qola" belum berlaku di sini :)

LPDP?
Bermodal keinginan simple untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, saya pun mencoba mendaftar beasiswa LPDP. Saat itu informasi tentang LPDP masih sedikit dan alhamdulillah website LPDP sendiri sudah sangat membantu untuk mengikuti prosesnya. Saya pun mendaftar tanpa kendala dan orang tua saya saat itu mendukung apa yang saya lakukan.
Alhamdulillah, saya pun mendapatkan email yang berisi daftar nama yang lolos seleksi administrasi. Saya pun menghubungi orang tua saya yang berada di pulau seberang bahwa saya lolos seleksi ini. Saya pun bersiap untuk mengikuti seleksi wawancara yang saat itu dilaksanakan di Unair (karena saya memilih Surabaya sebagai lokasi wawancara saya). 

Beberapa Hari sebelum Seleksi Lanjutan
Kira-kira kurang dari seminggu sebelum seleksi wawancara dan LGD berlangsung, saya mendapatkan telepon dari Ibu. Entah kenapa Ibu tiba-tiba berkata, "Lanjut kuliahnya gak bisa tahun depan aja ta, Kak?" Saya bingung dan terdiam, jelas bertanya-tanya kenapa Ibu tiba-tiba berubah pikiran untuk mendukung penuh keputusan saya sebelumnya. Saya hanya menjawab dan meminta ijin untuk tetap mengikuti seleksi wawancara LPDP gelombang ini, dan Ibu hanya berkata ringan, "iya."
Pada saat itu memang ada sesuatu yang benar-benar membuat saya untuk tetap berada di tanah air bersama saudara saya satu-satunya. 


Ketika Ridho Allah merupakan Ridho Ayah dan Ibu
Di hari berlangsungnya seleksi, saya mendapatkan giliran untuk melakukan LGD terlebih dahulu. Sampai tahap ini, saya masih merasa segalanya berjalan dengan lancar. Hari selanjutnya adalah hari untuk melakukan seleksi wawancara di mana saya mulai menemukan banyak kendala. Saya sudah dengan sangat berhati-hati untuk make sure kalau besok akan berjalan dengan lancar juga. Saya mendapatkan giliran di siang hari dan bertanya pada panitia apakah saya bisa datang sekitar 2-3 jam sebelum jadwal saya karena saya masih harus mengajar, dan mereka pun mengatakan dua jam sebelum jadwal yang ditentukan saya sudah harus berada di lokasi. Keesokan harinya, saya benar-benar tiba di lokasi 2.5 jam sebelum jadwal saya, namun yang saya dapati adalah tidak ada lagi peserta seleksi yang mengantri di luar ruang seleksi saya :) Yaa Allah, kok gini? *runtuk dalam hati* 
Saya pun bertanya pada peserta yang mengantri di luar ruangan sebelah, dan mereka mengatakan bahwa memang yang di ruangan saya sudah selesai semua tetapi interviewernya belum terlihat meninggalkan ruangan. Saat itu juga salah satu interviewer keluar ruangan (sepertinya psikolognya), dan saya bertanya apa masih bisa melakukan seleksi, saya pun dipersilahkan masuk. 
Dalam ruangan wawancara, belum sempat saya duduk, saya sudah dilemparkan sebuah pertanyaan yang menohok oleh salah satu interviewernya, "Gak niat ya?" hehe itu makjleb sih waktu itu, tapi saya berusaha tenang dan menjalani proses wawancara yang kurang menyenangkan (karena interviewernya tampak ingin segera mengakhiri proses itu). Selepas wawancara, saya pun merasa saya sudah tahu hasilnya :) 

Pengumuman

Alhamdulillah, ternyata saya benar-benar tidak lolos seleksi wawancara saat itu :) 

Sebaik apapun persiapan yang saya lakukan, ada faktor lain yang mampu mengubah segalanya dalam sekejap. Dalam hal ini, saya pun sangat sadar kalau ridho Ibu yang tidak diberikan saat itu sangatlah berpengaruh pada segala sesuatu yang terjadi dalam proses yang saya jalani. Pesan saya, jangan pernah mengesampingkan ridho Ayah dan Ibu, memang kita harus terus berusaha, namun ridho mereka sangatlah penting (selama itu semua tidak melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah SWT). Memang, pelajaran yang datang dari kegagalan terkadang tidak mudah untuk diterima dan dipahami, namun, pasti ada sesuatu yang harus kita lalui sebelum mendapatkan sesuatu yang berharga. Semoga di tulisan selanjutnya saya sudah mampu menghadirkan akhir yang saya harapkan :) 


10 Jul 2014

Perburuan LoA (Letter of Acceptance)

Letter of Acceptance atau yang sering disingkat dengan LoA adalah surat sakti yang diberikan universitas tujuan sebagai kunci memasuki universitas tersebut. Terkadang, LoA juga bisa digantikan dengan Letter of Offer atau LoO, keduanya memiliki fungsi yang sama, kunci awal memulai perkuliahan di universitas yang kita tuju.
Sebelum mendapatkan LoA, ada beberapa langkah yang sebaiknya kita lakukan. Well, rinciannya bisa dilihat dibawah ini :D

Menentukan Universitas Tujuan
Hal pertama yang harus dilakukan sebelum berburu LoA pastinya menentukan universitas tujuan. Satu hal yang terpenting, lakukan pencarian mendetail tentang universitas yang akan kita tuju. Mungkin ranking universitas memang sangat bagus, tapi apakah begitu juga dengan jurusan yang akan kita ambil nantinya?
Menentukan dan mencari tahu tentang jurusan dan bidang studi yang diminati sangatlah penting sebelum memasukkan aplikasi. Pasti gak pengen donk nantinya kuliah di jurusan yang kurang pas dengan minat kita :)

Mempersiapkan Dokumen yang Dibutuhkan
Nah! Fungsi dari mencari tahu tentang universitas itu salah satunya mengetahui persyaratan yang diminta oleh universitas tersebut. Dokumen apa saja sih yang dibutuhkan? Waktu itu saya mendaftar di salah satu universitas di UK, jadi mohon maaf kalau hanya bisa menjelaskan tentang dokumen yang dibutuhkan untuk universitas di UK :)
Pertama, ijazah dan transkrip. Karena mendaftar di universitas luar negeri, pastinya kita harus melampirkan dokumen yang sudah melalui proses alih bahasa terlebih dahulu. Saat ini sudah banyak kok penerjemah tersumpah yang bisa digunakan jasanya untuk melakukan translasi :) Pastikan juga lihat ketentuan berapa IPK yang dibutuhkan yaa :)
Kedua, surat rekomendasi. Biasanya, universitas meminta dua jenis surat rekomendasi, satu dari pihak universitas, satu lagi dari tempat kita bekerja. Namun, hal tersebut tidaklah mutlak, jadi boleh kok melampirkan dua surat rekomendasi dari universitas. Make sure yang memberikan rekomendasi merupakan orang yang benar-benar mengenal kita dengan baik ya, karena terkadang pihak univ akan menghubungi mereka untuk melakukan konfirmasi :)
Ketiga, personal statement. Nah! Ini saatnya kita unjuk gigi. Personal statement adalah salah satu tempat di mana kita bisa membicarakan segala hal tentang diri kita. Namun, jangan terlalu show off ya, bisa-bisa pihak univ malah capek bacanya :p Eits, biasanya sih ada ketentuan jumlah kata maksimal yang diperbolehkan. Rata-rata univ meminta personal statement sepanjang 300 kata. Dikit banget ya buat ceritain gimana diri kita? Iya banget! Tapi memang itulah tujuannya, jadi gimana cara kita bisa manage apa yang ingin kita sampaikan dalam sebuah tulisan pendek. Kurang lebih sih 50 persen dari tulisan kita berisi alasan kita memilih univ tersebut dan tunjukkan kalau kita sudah benar-benar kenal dengan univ melalui beberapa research yang sudah kita lakukan. 30 persennya kita bisa menceritakan tujuan kita dan bagaimana kuliah di univ tersebut dapat membantu kita untuk mewujudkan tujuan itu. Sisanya, kita bisa bercerita tentang diri kita, kegiatan kita, bahkan hobi yang kita minati, semacam pembicaraan casual untuk memperkenalkan diri.
Keempat, sertifikat kemampuan bahasa. Karena kita mendaftar di universitas yang tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium of instruction, kita wajib donk melampirkan seberapa tingkat kemampuan bahasa asing kita untuk dapat mengikuti pembelajaran di sana. Biasanya IELTS dan TOEFL yang dijadikan patokan oleh beberapa universitas.

Mendapatkan LoA
Nah, kalau pihak universitas sudah menyatakan kita pantas untuk belajar di sana, kita akan diberikan Letter of Acceptance/Offer. Ada dua jenis LoA yang biasanya diberikan kepada calon mahasiswa. Yang pertama adalah unconditional LoA, kalau kita sudah mendapatkan ini, berarti tidak ada persyaratan lain yang harus kita penuhi, alias kita sudah diterima :) Yang kedua adalah conditional LoA, nah, yang satu ini berarti ada salah satu persyaratan yang belum kita penuhi ketika mendaftar, biasanya univ memberikan waktu bagi penerima LoA jenis ini untuk melengkapi dokumennya. Kebanyakan penerima conditional LoA memiliki kendala pada sertifikat bahasanya.

Well, kurang lebih itu sih yang harus kita perhatikan ketika akan mendaftar di universitas luar negeri. Stay Positive yaaa!
Cheers!

30 May 2014

Indonesian VS English Proverb [English Version]



Proverb, or known as “Peribahasa” in Bahasa Indonesia, often learned at school. However, a language should be learned along with its culture. Culture has a big influence on the use of language itself, as well as the use of proverb.
In Indonesia, learning Indonesian proverb is a common thing. However, is learning English proverb as simple as translating Indonesian to English proverb? No, it is not. The difference between our country (Indonesia) with the English speaking country really affects the proverb used. Let’s see the following examples J

Nasi sudah menjadi bubur
This proverb means “The mistakes or things that have done cannot be changed so do not be upset and let it be.” It is often used by Indonesian people. If we want to use it in English, we cannot simply translate it into English. If we keep trying to change it, more or less it will become “Rice has become porridge.” -____-
            Actually, there is an English proverb which has similar meaning, that is "Don't cry over the spilled milk" (Jangan menangisi susu yang sudah tumpah). Of course, this difference is affected by the culture (the staple food of Indonesian people is rice and mostly, western people drink milk and eat bread, they do not eat rice).

Other examples: 

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya = Like father like son
Karena nila setitik rusak susu sebelanga = Rotten apple spoils the whole barrel
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian = Nothing ventured nothing gained (no pain no gain)
Diberi hati, minta jantung = Give someone an inch and he'll take a mile
Air susu dibalas dengan air tuba = Bite the hand that feeds you
Therefore, learning a language along with its culture is really important J

2 Feb 2014

Wanderlust: The Amazing Mount Bromo


Mount Bromo is an active volcano located in East Java. This mountain is not the biggest one yet amazing. The Mount Bromo is not only well-known among local people, but also among International tourist. There are some spots in Mount Bromo that can be visited. However, we cannot drive our car if it's not supported by 4WD system. We don't need to worry about it since there are many Land Cruisers being rented to take you everywhere around the site.
I went there around January and it is really cloudy. I visited Penanjakan where I (should) see the sunrise yet it was really cloudy and I found nothing. Next stop is Mount Batok, Sea of Sand (Segara Wedi) and Savannah. Fortunately I can enjoy all of them. 

Not too far from the Mount Bromo, we can see a small temple where the Hindus praying. Most of the people around this mountain are Hindu and belong to a tribe called "Tengger". This tribe is still doing several cultural ritual as a part of their life. The biggest ritual is Kasadha (the tenth) where the people will throw some agricultural products to the crater. It is said that this ritual has been done ages since Roro Anteng and Joko Seger (the ancestors) made a promise to sacrifice one of their children to Mount Bromo. Their names are also the where the name Tengger was inferred. To commemorate this phenomenon, nowadays, Tengger people are still doing this ritual.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons