5 Apr 2016

Edensor

Edensor, dilafalkan sebagai /'ɛnzə:/ ~ enzer (dengan r samar) adalah sebuah desa di kawasan Derbyshire, Inggris. Desa kecil ini berlokasi di kawasan the Chatsworth House yang merupakan hunian dari the Cavendish Family sejak tahun 1549. Bagi orang Indonesia, Edensor sangatlah familiar dan dikenal melalui buku karya Andrea Hirata yang mengangkat nama desa ini sebagai judulnya. Namun ternyata, hampir sebagian besar masyarakat Inggris tidak mengetahui atau bahkan pernah mendengar tentang desa ini. Jujur, saya sendiri belum sempat membaca Edensor, namun saya cukup penasaran dengan desa ini. Beberapa hari lalu, dengan bermodalkan GPS dan rute bus yg disediakan di kota Sheffield, saya pun bertolak ke daerah Peak District di mana Edensor ini berada. Memang, lokasi desa ini sangat dekat dengan the Chatsworth House yang merupakan tujuan utama para turis. Saya pun menjelajah the Chatsworth House terlebih dahulu (walaupun tidak sampai masuk karena tiket masuknya yang sangat mahal :p ). Setelah itu, saya menuju ke Edensor dan mencari tempat-tempat iconic yang dijadikan ilustrasi latar dari cover buku Edensor. Saya pun menemukan sebuah gereja dan jembatan yang menjadi latar dalam cover buku tersebut. Kesan suram yang terdapat dalam cover buku itu sama sekali tidak tercerminkan pada kondisi Edensor yang sebenarnya (mungkin karena memang kesan itu yang ingin dimunculkan oleh Andrea Hirata). Edensor merupakan desa kecil yang sangat hijau dengan beberapa rumah yang bagi saya bentuknya lucu-lucu :D. Banyak domba berkeliaran di padang rumput sekitarnya, juga terdapat sungai yang jernih yang secara tidak langsung menjadi pembatas antara desa Edensor dengan the Chatsworth House. Beruntung hari itu cuaca di Edensor sangatlah cerah dan hangat sehingga pemandangan yang ditawarkan pun semakin memikat :). Setelah membaca sedikit sinopsis dari buku Edensor, saya pun mendapat gambaran bahwa buku ini bercerita tentang perjalanan seorang anak dan kawannya yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Eropa. Saya pun berinisiatif untuk mengambil gambar ini dan berharap agar dapat memberikan semangat kepada teman-teman di bawah naungan almamater yang sama untuk selalu berani bermimpi dan berusaha untuk mewujudkannya :)
Semoga hadiah atau oleh-oleh kecil dari saya ini mampu sedikit memicu semangat teman-teman semua untuk berusaha sebaik mungkin dalam menyelesaikan jenjang pendidikan yang dijalani saat ini dan mewujudkan segala mimpi yang dimiliki.
Sedikit kutipan dari buku Edensor, "Pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda."
Teruslah berusaha karena kita tak pernah tahu sejauh apa usaha yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kita :)
Tak ada usaha yang luput dari pandangan Allah dan tak ada doa yang luput dari pendengaranNya.
Salam,
Navila Roslidah

Alumna Pendidikan Bahasa Inggris, FBS, Universitas Negeri Surabaya

2 Apr 2016

What is it like to be a Muslim in Britain today?

Article published in PPI Southampton

Assalamu'alaikum :)
Many people asked me to share a story about being a Muslim in Britain. Is it hard to do salah (praying)? Is it hard to find and eat halal food? What about the local culture?
Well, the answer is both hard and easy :)

Salah
Being asked about the praying matter, I can only say that it depends on individuals since it has something to do with our desire to do it or not, lol. When there is no will to do it, we will easily say: it is really hard to do! Several months ago, in September to be exact, I arrived in England to continue my study. Of course, at the beginning, I was confused where the Qibla direction is. The first attempt that I did was installing some mobile apps that can show me the direction. At that time, I tried to combine several apps to make sure that I face the right direction when I’m praying. Okay, it is easy to do praying at home since I can perform wudu (a ritual of washing (ablution) several parts of our body before praying) well and have a proper place to pray. However, it becomes really hard to do it outside (since I was a newcomer at that time). In the first week, due to an outside activity, I did my prayer on the riverside park with my coat as a mat because I didn’t know more proper place to do it around that area (Muslim needs to do prayer 5 times a day and there is also the prescribed times to do it Fajr—near dawn, Zuhr—just after midday, Asr—late afternoon, Maghrib—just after sunset, and Isha—after dark). I did wudu with a bottle of still water that I brought, fortunately I brought my prayer clothes. The week after, I finally found several mosques around city centre. Alhamdulillah :)
In campus, I can do prayer in a more than decent Muslim prayer room. We, Muslim, are well-facilitated by our campus so that it is really easy to pray even we still has a lecture. Sometimes, I just leave the class for a moment to do it in the prayer room because in winter, we don’t have much time since the daytime is shorter :) but in summer, we have a longer daytime which is really convenient to wait until the class is over. Well, I can say that where there’s a will there’s a way, InsyaAllah :)

Halal Food
Southampton is one of the cities around UK that has less halal food (compared to other big cities with more Muslim population). However, that is not the reason to prevent me to find halal food :) Before coming here, I have thought about it and prepared some canned sardines from Indonesia and in my first week in the UK, I bought and ate fruits and fish only lol. After being accustomed to the transportation here, I started to visit several places around campus and city centre. Alhamdulillah, I found halal Turkish restaurant near campus and some other halal restaurants :) Okay, I found some restaurants yet I still want to make my own meal :p As recommended by my previous lecturer who has been in the UK before me, I went to a supermarket that provides halal meat as well, and found it! Halal meat and chicken! There is one special section for halal stuff in supermarket, alhamdulillah :) once more, where there’s a will there’s a way :)

Local Culture
Well, I’m a student in a multicultural classroom. The way we interact and socialize, of course, is defferent. After several weeks of our study, some of my local friends asked the member of the class to chill out in the university pub. The time suggested was also really late in the evening. I can turn down the first invitation (sorry about it guys :p) but I couldn’t bring myself to do it when another one is coming :D so, I tried to explain my condition about being a Muslim :) I am forbidden to drink alcohol and any food contains it. Besides that, I am only allowed to eat halal food (no pork! For other kinds of meat are allowed if halal-slaughtered) :) Fortunately, my friends are really considerate and the next time we are going out, we always choose the convenient time for everyone, and of course, convenient restaurant with halal food or vegetarian meals. Once more! We only need to try :) It is easy or not is just a matter of our will and effort. The good thing about being Muslim in UK, for me, I began to realize that while in Indonesia I was too careless. I feel secure and comfortable with everything supplied, especially food, without having further consideration about the food I consumed, is it halal or not? Are those chicken or beef sold in the market are halal (halal-slaughtered)? Well, I don’t know :( Here, in the UK, I need to be more careful before buying food, even for chocolate, I need to look at the ingredients first. Thanks MUI (Indonesia's top Muslim clerical body) who always try to make sure that Indonesian people eat halal food. I hope that the examination for food and any other things in Indonesia is done regularly so that it can help as on the assurance of halal food we eat :)

Wallahu a’lam bishawab


10 Mar 2016

Bagaimana sih Rasanya jadi seorang Muslim di Inggris?


Assalamu'alaikum :) 

Banyak banget yang tanya bagaimana sih rasanya jadi seorang Muslim di Inggris? Susah gak menjaga sholatnya? Susah gak makan makanan halal? Susah gak untuk menghindari pengaruh sosial yang tidak islami? 
Well, jawabannya susah susah gampang :D 

Menjaga Sholat
Kalau ditanya susah gak menjaga sholat? Masalah menjaga sholat sebenarnya bergantung pada pribadi masing-masing karena itu berhubungan dengan faktor keinginan hehe. Ketika tidak ada keinginan untuk menjaga sholat, sudah pasti akan langsung menjawab: susah! 
Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan September, saya tiba di Inggris untuk melanjutkan studi. Memang, pada awalnya, saya saja bingung ini sholat menghadap ke mana karena tidak ada petunjuk arah kiblat, usaha pertama yang dilakukan ya menggunakan aplikasi yang dapat membantu menunjukkan arah kiblat, saat itu saya mengombinasikan beberapa aplikasi untuk make sure kalo arah yang saya tuju memang benar. Oke, kalau posisi di rumah mungkin lebih gampang untuk sholat, nah kalo diluar? Di minggu pertama tiba, saya sempat sholat di riverside park dengan alas jaket dan wudhu dengan sebotol air mineral yang saya bawa (saya juga kebetulan bawa mukenah waktu itu) karena sama sekali clueless di mana tempat sholat yang proper. Di minggu-minggu selanjutnya akhirnya saya menemukan lokasi-lokasi masjid yang bisa saya kunjungi di sekitar city centre. Alhamdulillah :) 
Untuk di kampus, sudah disediakan dan difasilitasi dengan sangat baik, jadi sangat mudah kalau sedang ada kelas, terkadang keluar sebentar untuk sholat karena waktu sholat yang agak mepet dan bertabrakan dengan jadwal kuliah. Selama mau usaha, insyaAllah ada jalan dan mudah! :) 

Makanan Halal

Untuk makanan halal, Southampton (daerah tempat saya tinggal) termasuk tempat yang sangat jarang makanan halalnya dibandingkan kota-kota lain di Inggris. Namun, bukan berarti gak usaha juga buat nyari yang halal kan :D Karena sudah kepikiran masalah ini, saya sudah bersiap membawa beberapa kaleng sarden dari Indonesia dan beli hanya buah dan ikan di Inggris lol. Setelah mulai terbiasa dengan transportasi dsb, saya pun mulai mengunjungi beberapa tempat, alhamdulillah di dekat kampus ada restaurant Turki halal juga beberapa restaurant halal lainnya. Oke, restaurant sudah, tapi masa iya makan itu terus? Pengen masak juga sih. Sesuai rekomendasi dari ibu dosen saya yang lebih dulu ke UK, katanya supermarket di UK menyediakan daging dan ayam halal juga kok, ada sectionnya sendiri :) Berangkatlah saya dan ketemu! Eh, ternyata di daerah city centre juga ada satu jalan yang dipenuhi dengan toko penyedia bahan makanan halal, bahagia kuadrat judulnya :D Sekali lagi, yang penting usaha nyari! haha


Pengaruh Sosial
Yang namanya kuliah, pasti donk kita punya teman sekelas, yang juga beragam. Karena kampusnya internasional, mahasiswanya juga multikultural. Cara mereka bersosialisasi pun berbeda. Beberapa minggu setelah perkuliahan, beberapa teman lokal melontarkan ajakan pada teman sekelas untuk nongkrong supaya lebih kenal. Waktu yang diusulkan pun cenderung malam dan ngajaknya ke pub pula haha. Pertama, bisa sih ditolak, karena 'sungkan' saya pun menolak dengan alasan entah apa waktu itu --" Ajakan selanjutnya, saya mulai mengajukan penawaran dan menjelaskan kondisi saya di mana saya tidak diperbolehkan untuk minum alkohol, eh ternyata mereka mudah mengerti, tau gitu dari awal dibilangin aja. Akhirnya selanjutnya mereka lebih memikirkan kebutuhan kita, mulai dari segi waktu juga makanan halal atau vegetarian yang disediakan hehe. Sekali lagi, usaha! 

Masalah gampang atau egak sebenernya bergantung usaha dan niat kita aja. Justru semenjak tinggal di sini saya mulai sadar kalau selama di Indonesia saya terlalu ceroboh dan merasa aman juga nyaman dengan segala yang disediakan. Tanpa bingung memikirkan halal tidaknya makanan yang saya konsumsi. Apa iya itu ayam atau sapi yang dijual di pasar halal semua (disembelih sesuai dengan aturan Islam)? Duh, entah :( Di sini mau beli cokelat aja pake diperiksa ingredients nya (sangat lebih berhati-hati). Terima kasih MUI yang sudah berusaha memeriksa segala sesuatu untuk masyarakat Indonesia. Semoga saja pemeriksaan yang dilakukan benar-benar berkala dan benar-benar membantu kami atas terjaminnya makanan halal yang masuk ke tubuh kami.
Wallahu a'lam bishawab

20 Feb 2016

Belanja Ala Indonesia (Southampton)

Article published in PPI Southampton

Helloooooo, gimana nih rasanya tinggal di Inggris? Udah ngimpi-ngimpiin Indonesia belom? Haha
Sabar yaa, gak susah kok buat adaptasi di sini. Awalnya sih memang susah, tapi kita-kita yang udah beberapa bulan tinggal di sini akhirnya bisa bertahan hidup juga. >.<
Jadi, tulisan kali ini bakalan fokus ke di mana kita bisa dapetin bahan makanan “ALA INDONESIA” di Inggris, khususnya Southampton, yang notabene menyajikan makanan dengan bumbu yang minimalis dan bahan yang cukup normal. Bukan berarti orang Indonesia makannya gak normal yaa, cuman kita terlalu kreatif aja sampe bahan makanan yang di sini bakalan ‘dibuang’ bisa kita olah jadi makanan yang super enak dan Indonesia banget!!!
Oke, kita mulai bikin list yaa, bahan makanan yang populer dan dibutuhin banget sama masyarakat Indonesia. Mulai dari yang biasa sampe luar biasa!

REMPAH DAN BUMBU

Cabe
Di UK, cabe ini komoditi yang agak susah-susah gampang untuk dipilih, dipilih yaa, bukan dicari. Berdasarkan pengalaman pribadi, sempet coba-coba beberapa jenis cabe yang tersedia di minimarket dan supermarket di sini, alhasil, masakannya agak sedikit lucu. Pedes sih, Cuma jadinya gak sedep, ada pait-paitnya gitu, lol. Dan akhirnya, ketemulah cabe yang cocok sama lidah orang Indonesia, namanya birds eye chili atau Thai red chili. Harganya memang lebih mahal daripada cabe yang lain, kalo penggemar makanan pedes yang sedep sih ya apa boleh buat, beli aja. Cabe ini bisa dibeli di International Food (Portswood), Sainsbury’s, dan Burgess Store.

Terasi
Nah lhoooo. Cabenya udah, kalo gak ada terasi, gak bisa bikin sambel yang nendang donk. Terasi ini sebenernya bisa dibeli di Burgess Store dan International Food. Mungkin agak beda, tapi gak beda jauh kok, bisa dibilang mirip, jadi gak usah kuatir kesulitan nyari terasi di sini. Maafkan karena saya lupa merek terasinya, ada kata belacan nya aja pokoknya. Bisa tanya ke petugas di toko kok

Bawang Merah
Mungkin selama ini kita kenalnya bawang putih itu garlic, bawang merah itu segolongan sama bawang Bombay yang disebut onion. Tapi kalo nyarinya onion, di sini dapatnya ya bawang Bombay, entah yang Bombay biasa atau Bombay merah. Rasanya? Jelas beda sama bawang merah yang biasa kita pake di Indonesia. Sekali lagi, gak perlu kuatir kesulitan nyari bawang merah kita, di sini namanya shallot. Memang harganya jauh lebih mahal dari onion, sekitar 4 – 5 pounds sekilo, tapi sesekali boleh lah beli yang ini. 

Rempah
Jahe (ginger), kunyit (turmeric), lengkuas (galangal), pala (nutmeg), daun salam (bay leaf), daun jeruk (lime leaf), serai (lemongrass) dkk bisa ditemukan di St Mary’s, International Food dan Burgess Store. Selama ini sih kalo nyari yang segar bisa ke St Mary’s, kalo yang udah bubuk, dalam kemasan dan frozen bisa dibeli di International Food dan Burgess Store. Cuma sampai sekarang belum sempet ketemu sama kencur.

TEMPE DAN TAHU
Bahan untuk buat sambel sudah lengkap, sekarang tinggal lauknya. Tempe dan tahu memang lauk yang paling klop sama sambel terasi, sambel bawang, dan sambel lainnya  Tahu dan tempe bisa dibeli di Burgess Store juga, tempenya frozen sih, kalo mau yang gak frozen, biasanya ada kok anggota PPI yang bisa buat, tapi musiman, jadi selamat menanti dan semoga beruntung. Di Burgess Store ada macam-macam tahu, biasanya tahu yang namanya Tau Kwa (kalau gak salah spelling) yang enak, atau bisa pilih merek lain yang menjelaskan kalau itu firm tofu. Karena susahnya memproduksi tahu dan tempe di sini, kita gak bisaexpect harga tahu dan tempe itu murah yaa

JEROAN
Ampela, hati, babat, lidah (lidah termasuk jeroan gak ya?) ada juga kok di Southampton. Sekali lagi, sepanjang jalan St. Mary’s banyak sekali toko yang menjual daging halal beserta jeroannya. Jeroan ini harganya terjangkau kok, gak mahal, lebih mahal cabe dan bawang merah haha. Selain di St. Mary’s, International Food juga menyediakan jeroan kok.

KEPALA DAN KIKIL
Tiba juga kita di bahan makanan yang agak ekstrim, bahkan gak semua orang Indonesia doyan makan ini. Kepala kambing dan kikilnya (kaki). Sekedar info, krecek/cecek itu beda yaa sama kikil. Nah, kepala dan kikil ini juga bisa didapatkan di St. Mary’s 

BONUS

Indomie
Bonus yaaa, kenapa bonus? Karena Indomie bukan termasuk bahan makanan, tapi makanan pokok bin wajibnya orang Indonesia *eh haha. Indomie gampang didapatkan kok, tapi, setelah melakukan perbandingan atas beberapa Indomie yang dibeli di beberapa tempat berbeda, akhirnya diputuskan bahwa rasa Indomie yang mendekati Indonesia banget itu yang bisa dibeli di Burgess Store. Tapi, tetep, Indomie di sini gak punya saus sambal merah kayak di Indonesia. Walaupun kurang nendang, paling tidak bisa ngobatin kangen sama msg yang terkandung di dalamnya.

Milo
Setelah satu semester tinggal di sini, akhirnya ketemu juga ini Milo. Siapa tahu ada yang butuh dan doyan banget sama milo *kayak saya* semoga info ini membantu. Milo bisa dibeli di toko Global yang ada di St Mary’s road juga. Terakhir beli, untuk 500g milo, harganya hampir 5 pounds hehe.

Beras Pulen
Info tambahan juga untuk beras J Bagi yang gak bisa makan nasi pero/pera bisa memilih Thai Jasmine Rice, beras ini pulen kok. Beberapa merek yang sudah pernah saya coba itu Royal Umbrella, Dragon, satu lagi lupa (Cuma ingat bungkusnya warna biru). Kesimpulannya, sampai saat ini, Royal Umbrella masih yang paling oke menurut saya.

Cobek dan Uleg-uleg
Walaupun judulnya cuma bahan makanan, sekalian deh peralatannya. Sebenernya, bukan uleg-uleg atau cobek yang normal dipakai di Indonesia, tapi cukup bermanfaat dan bisa menggantikan fungsi cobek untuk nyambel, hehe. Cobek dan uleg-uleg ini namanya Mortar, bisa dibeli di IKEA dengan harga 10 pounds J

Info detail untuk toko dan alamatnya
Burgess Store             : 210 Burgess Rd, Southampton SO16 3AY
International Food    : 168-174 Portswood Rd · 023 8067 1177
St. Mary’s Road         : Pada dasarnya, ini nama jalan di mana banyak toko daging halal di sepanjang jalan ini, tapi biasanya, Global Food and Halal Meat Centre yang biasa dikunjungi beralamat di 55-56 St Mary’s Pl, City Centre, Southampton SO14 0BH
IKEA                           : W Quay Rd, Southampton SO15 1GY
So, hidup di Inggris gak se-horor yang dibayangkan kok. Gak susah buat adaptasi dengan orang-orangnya, budayanya, makanannya (apalagi kalo sering bikin makanan sendiri, gak berasa di Inggris, lol). Yang agak susah buat kita mungkin beradaptasi dengan cuacanya yang super duper galau. Jadi, kesimpulannya, gak perlu bawa beban terlalu berat untuk membawa rempah dan bahan dari Indonesia untuk keperluan selama studi di sini (1-4 tahun) karena beban belajar dan beban hidup kita sudah berat hahaha.


CHEERS!

31 Jan 2016

Chefchaouen, The Blue City

Chefchaouen pronounced as /ʃəfˈʃɑˑwən/ ~ shefshawen is a blue city located in Morocco, Africa. It is called as The Blue City due to its all blue-painted houses, doors, even the road and stairs. At first, I got a glimpse of Santorini, lol, since the arrangement of the building looks alike. 
It is said that the blue colour has something to do with the Jewish history and Spanish refugee. This city is surrounded by mountain so that the weather is quite nice! I went there in winter yet it's not too cold (compared to UK). The thing that makes me really happy is the foods and drinks here are really cheap! I can have a glass of FRESH orange juice which is squeezed right in front of my eyes and I can tell for sure there is no sugar added in to my juice! Can't get enough of it! 
This place is good for photography. It is a unique all-blue place. An old city with its history. Good view from the top of the hill. Just be careful, better find someone who knows this place well to accompany you. This place is like a maze, lol, and not all of the people here speak English. It will be really helpful if you can speak Arabic or French :) 
Ah, one more thing, Indonesian passport holders don't need any visa to enter Morocco which is NICE! :) 


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons