28 Oct 2016

Tentang Bahasa Indonesia: dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda (?)


Sedikit cerita, jaman dulu Indonesia sempet galau juga buat nentukan bahasa nasionalnya apa! Jadi jaman dulu, sempet kepikiran buat jadiin Bahasa Belanda sebagai bahasa nasional, karena bahasa itu dipakai kaum elit Indonesia yang berhak mengenyam pendidikan pada jaman penjajahan. Namun, walaupun pada saat itu dianggap sebagai bahasa internasional, Bahasa Belanda belum punya peran yang setara dengan Bahasa Inggris atau Perancis yang mampu menjadi sarana komunikasi internasional, Bahasa Belanda pun urung menjadi bahasa nasional Indonesia.

Selain Bahasa Belanda, kandidat kuat lainnya adalah Bahasa Jawa. Kenapa Bahasa Jawa? Karena pada saat itu, suku Jawa merupakan suku dengan populasi terbesar (hampir 50% dari populasi Indonesia), selain itu, Bahasa Jawa memiliki budaya literatur yang sangat kaya. Namun, karena adanya social registers dengan completely different lexicon yang digunakan berdasarkan usia dan kelas sosial yang agak sulit dipelajari oleh suku lain, maka Bahasa Jawa pun gugur sebagai kandidat bahasa nasional. Jadi, kenapa Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu dipilih?

Pada saat itu, fakta menunjukkan bahwa kurang dari 5% masyarakat Indonesia yang menggunakan Bahasa Melayu. Namun, tidak seperti Bahasa Jawa, Bahasa Melayu lebih mudah dipelajari dan dipahami. Selain itu, persebaran Bahasa Melayu juga didukung oleh kegiatan perdagangan yang melalui berbagai pulau di seluruh Indonesia. Sebagian besar pedagang yang pada saat itu menyebarkan agama Islam dan Nasrani menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. 

Pada awal abad ke-19, Bahasa Melayu sudah mulai digunakan di instansi pemerintahan juga institusi pendidikan (walaupun hanya digunakan di tingkat dasar). Dengan digunakannya Bahasa Melayu di institusi pendidikan, masyarakat kalangan bawah di Indonesia mulai dapat merasakan pendidikan sebagai bekal dasar. Pada saat itu, Bahasa Melayu sudah dianggap sebagai bahasa nomor dua setelah Bahasa Belanda. Bersamaan dengan mulai meluasnya persebaran juga penggunaan Bahasa Melayu di Indonesia, beberapa surat kabar lokal sudah mulai menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Sejak saat itu, berbagai organisasi yang menggunakan Bahasa Melayu mulai bermunculan. Pada tahun 1926, seperti yang kita tahu, Kongres Pemuda pertama diadakan di Jakarta (yang saat itu masih bernama Batavia). Kesepakatan yang dicapai pada saat itu adalah kegiatan para pemuda di segi sosial, ekonomi, dan budaya. Selanjutnya, pada tahun 1928, Kongres Pemuda kedua pun diadakan. Kongres Pemuda kedua ini menghasilkan keputusan yang sampai saat ini kita kenal dengan istilah "Sumpah Pemuda."

Naskah Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia


Tidak hanya ikrar Sumpah Pemuda, lagu nasional Indonesia Raya serta istilah Bahasa Indonesia pun diperkenalkan pada kongres tersebut. Karena merasa terancam akan pertumbuhan Bahasa Indonesia, pada saat itu, pemerintah kolonial Belanda menghapuskan Bahasa Melayu dari mata pelajaran yang diberikan di sekolah-sekolah di Pulau Jawa. Namun, menanggapi hal ini, para pemuda mengadakan Kongres Bahasa Indonesia pertama pada tahun 1938 untuk membahas keberlangsungan dan perkembangan Bahasa Indonesia. Perkembangan Bahasa Indonesia pun pada akhirnya tidak berhenti sampai di situ. Pada saat pendudukan Jepang, seketika, saat itu juga, penggunaan Bahasa Belanda pun dilarang dan digantikan oleh Bahasa Jepang. Namun, hal ini sangat sulit untuk direalisasikan mengingat waktu yang sangat singkat dan beberapa komponen Bahasa Jepang yang sangat sulit untuk dipelajari dalam kurun waktu tersebut. Akibatnya, hampir semua dokkumen dan materi pembelajaran yang ditulis dalam Bahasa Belanda diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (yang secara tidak langsung justru menguntungkan bangsa Indonesia).

Mengikuti kemerdekaan Republik Indonesia, Bahasa Indonesia pun siap menjadi bahasa nasional yang juga melambangkan kemandirian dan kebebasan bangsa Indonesia dari jajahan bangsa lainnya. Bahasa Indonesia yang hingga saat ini digunakan sebagai bahasa nasional juga bukan merupakan ancaman bagi bahasa daerah lainnya yang merupakan minoritas di Indonesia, karena status Bahasa Indonesia yang dapat dianggap sebagai bahasa kedua dari masyarakat Indonesia saat ini. Bahasa Indonesia merupakan pemersatu yang dipahami oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. 

Tulisan ini merupakan hasil dari membaca beberapa artikel karya Sutan Takdir Alisjahbana (maaf reference-nya kurang proper, karena cuma pengen nulis aja, bukan bikin artikel ilmiah, hehe). Agar tulisan ini mudah dipahami, saya sengaja menghindari dan mengurangi pembahasan mengenai sintaksis, morfologi, etnografi, maupun antropologi bahasa. Enjoy :)

KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya)

Sekilas tentang KIBAR Autumn Gathering 2016 (Southampton, 22-23 Oktober 2016)

KIBAR adalah singkatan dari Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya. Setiap musim semi dan musim gugur, umat Muslim Indonesia di UK selalu mengadakan gathering dengan mendatangkan pembicara utama dari Indonesia serta beberapa pembicara lokal. Tidak hanya mendengarkan tausiyah dan tanya jawab, biasanya kita juga mengadakan bazaar jajanan, masakan, dan bumbu-bumbu khas Indonesia. Selain itu, ada KIBAR cup juga bagi yang suka kompetisi. KIBAR gak cuma buat teman-teman Muslim yang sudah berkeluarga atau para mahasiswa senior kok, karena tema acaranya pun cocok buat kita-kita yang masih muda. Diskusi tentang kuliah juga gak jarang terjadi. Selain itu, KIBAR Gathering juga merupakan tempat yang pas untuk memperluas jaringan kita karena kita akan bertemu banyak peserta baru setiap musimnya. Disamping itu, KIBAR juga bekerja sama dengan KBRI untuk memberikan layanan konsuler bagi teman-teman yang memiliki berbagai kepentingan seperti lapor diri, penggantian paspor, meminta surat kepindahan, dan lain sebagainya.

Untuk musim gugur kali ini, Southampton menjadi tuan rumah KIBAR Gathering yang diadakan selama dua hari (22-23 Oktober 2016). Sejujurnya, pada awalnya, kami merasa 'agak' keberatan dengan keputusan ini mengingat jumlah masyarakat Indonesia di Southampton yang tergolong sedikit. Alhamdulillah, ternyata dengan massa yang sedikit juga, kami berusaha mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi para peserta KIBAR Gathering. Terlepas dari beberapa kekurangan yang pasti ada, kami cukup bangga dengan kekeluargaan teman-teman Southampton yang luar biasa. Semua anggota PPI Southampton, baik teman-teman mahasiswa, juga bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah berkeluarga pun ikut berpartisipasi dalam persiapan menjelang acara KIBAR Gathering. Persiapannya mencakup banyak hal mulai dari persiapan lokasi acara, perlengkapan, konsumsi, acara, olahraga, tour, bazaar, madrasah bagi anak-anak, transportasi, dan lain sebagainya. Bahkan teman-teman yang non-Muslim pun antusias membantu berbagai persiapannya dan ikut meramaikan bazaar (terima kasih sudah beli banyak, hehe).

KIBAR Autumn Gathering kali ini mengundang Dr. Amir Faishol Fath, MA yang membahas tentang Islah dan Mashlahah: Menjadi Muslim yang produktif. Disamping itu, ada beberapa informasi mengenai Islamic Centre di UK dan program-program dakwah di UK. Mengingat lokasi Southampton yang berada di ujung selatan UK, jumlah peserta yang hadir benar-benar diluar ekspektasi (mbludak) hehe. Di satu sisi kami sangat senang, di sisi lain, kami deg-degan, bisa atau tidak ini menjamu kurang lebih 400 orang dengan kapasitas sumber daya manusia yang cukup sedikit. Alhamdulillah, secara umum acara berjalan lancar, walaupun pastinya ada beberapa kendala dan kekurangan kami. Beberapa hari kurang tidur dan lelah yang terbayarkan dengan pesan positif yang disampaikan oleh beberapa peserta yang berpamitan pulang, juga pesan singkat yang sampai ke kotak masuk kami. Sebagai salah satu panitia, saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman semua. Semoga kuliahnya lancar dan jangan kapok yaa kalau ada kegiatan besar lagi yang akan diadakan di Southampton. Kalian semua membanggakan :)
Tons of hugs :*

Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati kita semua untuk bersilaturahim, menuntut ilmu, dan berbagi pengalaman. Paling tidak, ada beberapa kisah yang bisa menjadi cerita kelak di masa mendatang, dan ada kontribusi kecil dari kami yang bisa diberikan bagi masyarakat Indonesia di negeri yang asing ini :)

22 Sept 2016

Sehari di Brussels

Karena bermodal tiket murah, saya pun sampai di Brussels kepagian -_- semacam belum ada kehidupan di sana. Karena butuh menghangatkan diri dan mencari wifi (fakir wifi) untuk melihat tempat-tempat yang bisa dikunjungi dan opening hour nya, saya dan dua orang teman saya masuk ke stasiun. Mau ngeteh atau ngopi, belum ada warung yang buka, yasudahlah, untung masih ada cookies Sainsbury's yang dibawa haha.

Sudah agak siang dan tanda-tanda kehidupan sudah tampak, kami pun mulai berjalan keluar stasiun. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Grand Place dengan berharap akan mendapatkan view bangunan ala Eropa yang menarik di mana selalu ada ruang kosong di tengah, dikelilingi dengan bangunan berarsitektur khas. Sesampainya di Grand Place, kami mendapati banyak sekali scaffolding dan panggung dadakan di tengah area tersebut. Huft, agak kecewa karena sama sekali gak dapat spot yang oke buat difoto. Akhirnya kami pun duduk-duduk di sekitaran Grand Place sambil minum kopi dan makan croissant. Setelah itu, salah satu yang tidak boleh dilewatkan dari Belgia adalah waffle :D Kami bertiga beli waffle di sana, entah kenapa lebih doyan wafflenya Sprinkles, mungkin krn sudah makan croissant sebelumnya :( 

Nah, ada satu ikon Belgia yang sering muncul di kartu pos dan souvenir kota ini, yaitu "Manneken Pis" yang merupakan patung anak kecil sedang pipis hehe. Kami bertiga expect itu patung berukuran besar karena merupakan ikon kota ini, eh, lha kok? Kecil! -_- 

Setelah agak kecewa dengan Manneken Pis, kami pun berkeliling kota sebentar dan main-main dengan burung dara yang berkeliaran di sana. Kami juga sempat bermain di salah satu taman di Brussels yang sudah berbau autumn :) Selang beberapa saat, kami pun lapar dan mampir di sebuah restoran India di sekitaran Grand Place tadi. Masakan di Restoran ini enak dan halal, alhamdulillah. Untuk makan besar bertiga (sampe bisa dibungkus karena porsinya banyak) kami menghabiskan sekitar 40-45 euro. Alhamdulillah tidak mengecewakan. 

Setelah itu, kami berencana mengunjungi Atomium, salah satu bangunan yang cukup iconic di Brussels. Dari North Station, kami menggunakan trem menuju ke Atomium, kalau tidak salah, ke arah stasiun Esplanade. Saat kami memasuki underground stationnya Brussels, unexpectedly pesing banget :( kami bahkan mengira stasiun itu sudah tidak digunakan lagi dan sempat urung untuk melanjutkan langkah ke dalam. Namun, kami bertemu salah satu petugas dan bertanya lokasi loket atau mesin untuk membeli tiket, dan ternyata memang stasiun tersebut masih beroperasi. Duh!

Setelah membeli single ticket seharga 2.1 euro, kami pun menuju Atomium. Kok beli tiket yang single sih? Gak lebih mahal? Yah, yang single memang lebih mahal sih, eh! lol. Waktu itu, pertimbangan kami begini, mesin tiket hanya memberikan opsi single ticket atau one day ticket. Karena kami hanya butuh dua kali perjalanan, single ticket terasa lebih murah karena hanya membutuhkan 4.2 euro, sedangkan one day ticket saat itu 7 sekian euro. 

Dari semua tempat yang kami kunjungi, hanya Atomium yang tidak mengecewakan hehe. Setelah menghabiskan waktu untuk foto-foto dan sedikit tidur siang (yang gak disengaja) di sana, kami pun kembali ke North Station untuk melanjutkan perjalanan kami ke Belanda :) 

30 Aug 2016

Dirgahayu Indonesiaku, Berkibarlah Benderaku, from Southampton, with Love



credit: PPI Southampton
Walaupun agak sedikit terlambat, namun kemeriahan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Southampton sama sekali tidak berkurang. Dikarenakan cuaca yang kurang mendukung, kami, PPI Southampton tidak memungkinkan untuk merayakan 17 Agustus bertepatan pada tanggal yang seharusnya.

Acara pagi itu sangat meriah. Walaupun peringatan ini sangatlah sederhana, tanpa ada upacara serta petugasnya, bendera merah putih tetap berkibar di sini. Lagu kebangsaan tetap bergema dan semangat kemerdekaan tetap terasa. Persiapan di hari-hari sebelumnya, mulai dari persiapan pembuatan bendera-bendera kecil yang akan dikibarkan oleh masing-masing dari kami, garland untuk hiasan, makanan, persiapan peralatan lomba, dan lain sebagainya merupakan hal yang juga menguatkan rasa persatuan kami. 

credit: PPI Southampton
Pada perayaan tahun ini, para ibu-ibu di Southampton ikut berperan penting dalam permbuatan tumpeng juga kue ulang tahun untuk Indonesia. Selain itu, menu-menu yang disediakan benar-benar mampu mengobati kerinduan kami akan masakan khas tanah air yang memang pantas untuk dirindukan. 
credit: PPI Southampton
Para anggota PPI juga sudah menyiapkan beragam lomba, mulai dari lomba balap karung, tarik tambang, balap kelereng, sepak bola sarung, juga makan donat (karena tidak ada kerupuk yang biasa digunakan seperti di Indonesia, adapun harganya mahal sekaliii, hehe). Anak-anak, para pelajar, juga keluarga Indonesia di Southampton sangat bersemangat dalam mengikuti semua lomba. Karena acara diadakan di taman, ada beberapa warga lokal yang sangat tertarik dan seketika kami undang untuk bergabung. Mereka sangat menikmati makanan Indonesia yang kami sajikan. Tidak hanya tumpeng dan kue, kami juga membuat bakso dan kambing guling. 
credit: PPI Southampton
Walaupun jauh dari keluarga di Indonesia, kami selalu menemukan keluarga dalam setiap kebersamaan dengan warga Indonesia di sini. Home is where your heart is. It's not necessarily your house, because a house might not be a home :) 



30 Jun 2016

Tidak Sulit Puasa 19 Jam di Inggris


Artikel dari Suara Surabaya


suarasurabaya.net - Navila Roslidah mahasiswa asal Kota Surabaya yang sedang menempuh studi strata dua Applied Linguistics for Language Teaching di University of Southampton, Inggris, menceritakan pengalamannya menjalani puasa di negeri tersebut.

Awalnya, Navila mengaku sangat antusias sekaligus khawatir setelah tahu kalau puasa di Southampton berdurasi hampir 19 jam atau lebih (berbeda daerah, berbeda lama puasanya). Bahkan, pada hari pertama puasa, dia harus berpuasa selama 19,5 jam karena pada saat itu dia sedang mengunjungi temannya yang berada di Kota Edinburgh, Skotlandia.

"Awalnya saya berpikir akan kesulitan karena belum terbiasa berpuasa selama itu. Namun setelah dijalani, puasa selama 19,5 jam tidak sesulit yang dibayangkan. Dimanapun kita berada saat ini, Allah pasti memberikan kemudahan bagi umatNya untuk beribadah. Selama ada niat, insya Allah ada jalan dan kemudahan," katanya dalam surat elektroniknya, Rabu (29/6/2016).

Menurutnya, selain karena tidak ada perlakuan khusus bagi orang Islam selama puasa, kegiatan tetap berjalan layaknya hari biasa dan suhu udara di sana membuat mereka tidak merasakan dahaga.

"Allah itu Maha Adil kan, negeri-negeri di mana penduduk muslimnya harus berpuasa selama itu adalah negeri-negeri yang memang mendukung masyarakat muslimnya untuk melaksanakannya. Mungkin puasa di Indonesia lebih berat hehe.. Kebetulan saya tinggal di Surabaya yang suhunya di atas 30 derajat, terkadang hampir 40 derajat," ujar Navila.https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEj7qhlmauUnz64pkwf1FW5w7g0ysFpm7B94qJb3ndJ2DlfwgZHERVRvt9QtsQ2sRieB3Zgd9LCZTPSD0sU6ycC-B5MmYyhVGCofYZKkb4jnSBmqVDsqdC8rvZzER_7XZhIbxD445dMIQaBfG_O-0lBs3db9wLlCYFvpn3aVGFqtGBUBuf5Ar74GfDxc9fyP-c7FzQHLbMQnVUU_bVGFp_b9L20RHSU=Pada Ramadhan kali ini, ada hal-hal baru yang dia temukan di Southampton. Teman-temannya yang sesama muslim yang berusaha menghidupkan suasana Ramadhan. Bersama beberapa teman internasional lainnya, dia sering melakukan iftar bersama di mushola atau masjid terdekat.

Uniknya, di masjid itu, tidak hanya takjil yang disuguhkan, namun juga tersaji makanan berat untuk berbuka puasa. "Karena banyaknya donatur yang antusias menyediakan makanan bagi teman-teman muslim di sini, terkadang kami pulang dengan makanan yang bisa kami nikmati sebagai santap sahur, semoga rejeki mereka barokah!" ujarnya.

Terkadang mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Inggris Raya merindukan masakan berbuka puasa khas Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengobati rasa rindu akan makanan dan suasana berbuka puasa ala keluarga Indonesia, mereka sering mengadakan buka bersama di kalangan masyarakat Indonesia. Teman non-muslim lainnya pun turut meramaikan acara bertema rindu kampung halaman tersebut.

"Saya menyempatkan diri untuk pergi ke luar kota, hanya untuk merasakan sahur bersama teman-teman, agar tidak sahur sendirian di dapur hall kampus. Bagaimana rasanya? Menyenangkan pastinya! Jauhnya kami dari tanah air dan keluarga, membuat hubungan kami di sini layaknya keluarga," ujarnya.

Waktu berbuka yang cukup larut, membuat umat muslim di sana juga hingga lewat tengah malam hingga tidak tidur karena sempitnya waktu antara berbuka dan sahur. "Biasanya, sholat tarawih akan berakhir sekitar pukul 00.30 atau 01.00 dini hari, setelah itu dilanjut santap sahur karena sekitar pukul 02.30 adzan subuh sudah berkumandang," kata Navila.

Oleh karena itu, salah satu tantangan berpuasa di sini adalah mengatur jam tidur dan kegiatan lainnya di kampus. "Kebetulan saya masih harus menghadiri kelas yang dimulai pagi hingga sore hari. Selain itu saya harus mulai mengerjakan tesis yang akan dikumpulkan di bulan September nanti. Terkadang rasa lapar tiba-tiba datang karena harus berpikir keras, hehe. Namun di situlah seninya," lanjut dia.

Selain berpuasa, Navila merasa Allah juga memberikan mereka kesempatan untuk berdakwah melalui respon teman-teman internasionalnya yang belum banyak bersentuhan dengan kebiasaan Islam.

"Mereka dengan detail menanyakan bagaimana puasa itu, mengapa kami umat Islam harus berpuasa, hingga pertanyaan tentang berjilbab dan shalat. Saya merasa beruntung karena dengan begini, kami yang jauh dari lingkungan masyarakat muslim dapat turut menyampaikan bagaimana Islam yang sebenarnya terlepas dari berbagai isu yang beredar di dunia luar," katanya.(iss/ipg)



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons